Selasa, 08 September 2015

PENDEKATAN MEMAHAMI AGAMA


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT,karna dengan rahmat dan karunia-Nyakami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.Tidak lupa kami uapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dala menyelesaikan makalah ini.
      Kami menyadari dan meyakini bahwa makalah ini masih jauhdari kata sempurna.Masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kami sadari atau pun yang tidak kami sadari.Oleh karna itu kami mengharapkan kritik dan saran dari makalah ini,agar dimasa yang akan datang kami bisa memmbuat makalah yang lebih baik lagi.Namun begitu,meskipun makalah ini jauh dari kata kesempurnaan kami berharap agar makalah ini sedikit banyaknya dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
      Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam pembuatan makalah ini.Demikian sedikit kata pengantar dari kami atas perhatian para pembaca kami mengucapkan terima kasih.



STAI YAPTIP 13 Desemmber 2014
                                                                          
 Penulis





BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktiv didalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan penekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Berkenaan dengan pemikiran tersebut diatas, maka pada bab ini pembaca akan diajak  untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, filosofis, historis, kebudayaan, dan psikologis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.

Dalam hubungan ini, Jalaluddir Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya.










B.     Rumusan Masalah
Dari Latar Belakang di atas, maka rumusan masalahnya dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan teologis normatif?
2.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan antropologis?
3.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan sosiologis?
4.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan filosofis?
5.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan historis?
6.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan kebudayaan?
7.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan psikologis?

C.     Tujuan Penulisan
Dari beberapa rumusan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penulisan makalah ini diantaranya adalah:
1.      Untuk memperkaya keilmuan bagi mahasiswa.
2.      Sebagai pelengkap tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam(MSI).




















BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI AGAMA
A.     Pendekatan Teologis Normatif
       Pendekatan teologi normatif dalam memahami agama secara harfiyah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu, layolitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Karna sifat dasarnya yang partikularistik, maka mudah sekali kita temukan bermacam-macam aliran teologi. Dalam islam, secara tradisional dapat dijumpai teologi mu’tazilah, teologi asy’ariyah dan maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama khawarij dan murji’ah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya adalah paham yang salah, sesat, bahkan memandang penganut yang lain kafir. Fenomena ini, sebenarnya, yang disebut dengan mengklaim kebenaran(truth claim).
Perbedaan dalam bentuk forma teologis yang terjadi diantara berbagai mazhab dan aliran teologi keagamaan adalah merupakan realitas dan telah menyejarah. Perbedaan tersebut seharusnya tidak membawa mereka saling bermusuhan dan selalu menonjolkan segi-segi perbedaannya masing-masing secara arogan, sebaiknya dicarikan titik persamaannya untuk menuju pada substansi dan misi agama yang paling suci antara lain mewujudkan rahmat bagi seluruh alam yang dilandasi pada prinsip keadilan, kemanusiaan, kebersamaan, saling menolong, dan saling mewujudkan kedamaian.
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan teologis ini erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan nampak bersiat ideal.[1]

B.     Pendekatan Antropologis
      Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya dan menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara digunakandalam disiplin ilmu ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologi.
Sebab banyak berbagai hal yang dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam AL-Qur’an, sebagai sumber ajaran islam misalnya kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunung Arafat, kisah Ashabul Kahfi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Dimana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu, dimana kira-kira gua itu, dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan itu, ataukah demikian itu merupakan kisah fiktif.
Dengan demikian, pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi.[2]

C.     Pendekatan Sosiologis
 Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mengerti sifat dan maksud hidup bersama. Sementara itu, Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Di dalam ilmu ini juga dibahas tentang proses-proses sosial mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia.
 Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama,karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa di Mesir. Tanpa ilmu sosial peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami maksudnya.Jalaluddin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut:
1.Dalam AL-Qur’an atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya AL-Hukumah AL-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat,  bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial). Ciri-ciri orang mukmin sebagai mana disebutkan dalam surat AL-Mukminun ayat 1-9 yang berbunyi
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢  وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤  وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩
1)      Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
2)      (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya
3)      dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
4)      dan orang-orang yang menunaikan zakat
5)      dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
6)      kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
7)      Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8)      Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
9)      dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya

2.      Bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.

3.      Bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Karna itu shalat yang dilakukan secara berjamaah dinilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian,dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
4.      Dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, dengan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa salah satu tanda yang diterima shalatnya ialah orang yang menyantuni orang-orang yang lemah, menyayangi orang miskin, anak yatim, janda, dan yang mendapat musibah.
5.      Dalam islam terdapat acaran bahwa amalbaik dalam dibang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. Dalam hubungan ini kita misalnya membaca hadis yang artinya sebagai berikut.
    Maukah aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada shalat, puasa, dan sadaqah (sahabat menjawab),tentu.Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar.” (HR Abu Daud, Turmudzi, dan Ibn Hibban).

Melalui pendapat sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karna agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam AL-Qur’an misalnya kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa. Semua itu elas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.[3]


D.    Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pangalaman manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta atau pun menjadi kebenaran dan arti “adanya” sesuatu. Dan pengertian filsaat secara umum digunakan adalah menurut Sdi Gazalba yaitu: filsafat ialah berfikir secara mendalam, sistematif, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah, atau hakikat menjadi segala sesuatu yang ada.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa  filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat atau hikmah menjadi sesiatu yang berada dibalik formalnya. Ilsaat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah dan untuk menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam. Louis Kattsof mengatakan bahwa kegiatan filsafat ialah merenung, tetapi merenunginya bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematis, dan unuversal.berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud arag hikmah, hakikat atau inti dari acaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama, dan pendekatan filosofi ini sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Dengan menggunakan pendekatan filosofi seorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya.Ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan yang dapat menimbulkan kebosanan, maka semakin pula meningkatkan sikap, penghayatan dan daya spritualitas yang dimiliki seseorang. Seorang sarjana tidak cukup hanya mengabdikan pikirannya saja, melainkan seluruh hidupnya. Ia menuntut penghayatan total, bukan hanya sebatas study akademis terhadap persoalan agama bagi aliran ini. Study agama dan agama-agama adalah aktivitas keagamaan itu sendiri, dan mempunyai makna keagamaan. Sesuatu study agama hanya bermakna kalau ia memiliki makna keagamaan.[4]

E.     Pendekatan Historis
Historis adalah ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihatkapan peristiwa itu terjadi, di mana apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Melalui pendekatan searah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Pendekatan sejarah ini amat dibutuhkan dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan study yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari AL-Qur’an, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan AL_Qur’an ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep, dan yang kedua, berisi kisah-kisah sejarah.
Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapat banyak sekali istilah AL-Qur’an yang merujuk pada pengertian normatif yang khusus,doktrin etik, aturan legal, dan acaran keagamaan pada umumnya. Maka pada bagian kedua yang berisi kisah-kisah dan perumpamaan, AL-Qur’an ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kejadian atau peristiwa historis dan juga melalui kisah-kisah yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan. Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semaam ini, tersirat maupun tersurat, baik menyangkut hikmah histori atau pun simbol-simbol. Misalnya simbol tentang rapuhnya rumah laba-laba, tentang luruhnyasehelai daun yang tak lepas dari pengamatan Tuhan atau tentang keganasan samudera yang menyebabkan orang-orang kafir berdoa.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Maka seseorang tidak akan mengalami memahami agama keluar dari konteks historinya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang  yang ingin memahami AL-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya AL-Qur’an atau kejadian yang mengiringi turunnya AL-Qur’an yang selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbab AL-Nuzul (Ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat  AL-Qur’an ). Dengan ilmu Asbab un Nuzul seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syariat dan kekeliruan memahaminya.[5]

F.      Pendekatan Kebudayaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan menciptakan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan berarti pula kegiatan (usaha) dan batin, untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan,seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengalaman agama yang terdapat di masyarakat tersebut diproses oleh penganutnya dari sumber agama.
Kita misalnya menjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat,dan sebagainya.Dalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut berintegrasi. Pakaian model jilbab, kebaya atau lainnya dapat dijumpai dalam pengalaman agama. Sebaliknya, tanpa adanya unsur budaya, maka akan sulit dilihat sosoknya secara jelas. [6]

G.    Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala prilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiyah Daradjat bahwa prilaku seseorang yang nampak lahiriyah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Seseorang ketika berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada orang tua, kepada guru,menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya. Adalah merupakan gejala-gejala agama yang dapat dijelaskan melalui ilmu jiwa agama. Ilmu agama sebagaimana dikemukakan Zakiyah Daradjat tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam prilaku penganutnya. Dalam ajaran agama kita banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Misalnya sikap beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai orang yang saleh, orang yang berbuat baik dan sebagainya.
Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami, dan diamalkan seseorang, juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya. Misalnya kita mengetahui pengaruh dalam shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya dengan ilmu jiwa.
Kita melihat ternyata agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Karenanya islam mengajar perdamaian,toleransi, terbuka, adil, mengutamakan pencegahan daripada penyembuhan dalam bidang kesehatan dengan cara memperhatikan segi kebersihan badan, pakaian, makanan, tempat tinggal dan sebagainya.[7]
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Maka pada bab ini pembaca akan diajak untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Berbagai pendekatan meliputi pendekataan teologis normatif yaitu memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.Antropologis memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh yang berkembang dalam masyarakat.Sosiologis suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengka dengan struktur,serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.Filosofis berfikir secara mendalam ,sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaraan.Historis ilmu yang membahas tentang peristiwa yang dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi,dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.Kebudayaan hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya.Psikologis ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya

B.     Saran
Demi kecintaan ilmu pengetahuan, penulis mangharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi perbaikan makalah ini dikemudian hari.











DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2010, Metodologi Studi Islam, Jakarta : PT Raja Grafindo.
http://ali_imran.heck,in/2013/09/makalah-pendekatan-sejarah-dalam-kajian-islam.Html.
http://muhammadnurhadi,wordpress. com/2011/05/makalah-pendekatan-didalam-memahami-islam. Html.



1 komentar: