Kamis, 03 April 2014

fungsi mempelajari pembelajaran quran hadis



PENDAHULUAN
Pengertuan Perencanaan Pembelajaran Dilihat dari tegnologi, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yakni maka perencanaan dan pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Menurut kaufman (1972) perencanaan adalah sebagai suatu peroses untuk menetapkan “karena haris pergi” dan bagaimana untuk sampai “ke tempat” itu dengan cara efektf dan efisien. Setiap perencanaan harus memiliki empat unsur :

1.      Adanya tujuan yang harus dicapai (tujuan arah yang merupakan yang harus dicapai).
2.      Adanya strategi untuk mencapai tujuan (berkaitan dengan penetapan keputusan yang harus dilakukan oleh seorang perencana).
3.      Sumber daya yang dapat mendukung (penetapan sumberdaya yang di perlukan untuk mencapai tujuan).
4.      Impamentasi setiap keputusan (implementasi adalah perencanaan dari strategi dan penetapan sumber daya).

Berdasarkan unsur perencanaan yang telah dikemukakan diatas jadi perencanaan bukanlah khayalan atau angan-angan yang ada dalam benak seseorang melainkan dideskripsikan secara jelas dalam suatu dokumen tertulis.










PEMBAHASAN
A.    TUJUAN DAN FUNGSI
1.      Tujuan
tujuan pendidikan  adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Ahmad Tafsir merumuskan bahwa terdapat tiga tujuan pembelajaran yang berlaku untuk semua bentuk pembelajaran. (Ahmad Tafsir, 2008: 34, 35)
1.    Tahu, mengetahui (disebut sebagai aspek  knowing). Dalam tingkatan ini, pendidik atau guru memiliki tugas untuk mengupayakan kepada peserta didiknya agar mengetahui sesuatu konsep. Murid diajar agar tahu bahwa Al-Fatihah itu merupakan bagian penting dari surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an. Guru mengajarkan berbagai hal mengenai surat Al-Fatihah, semacam makna Al-Fatihah itu sendiri, jumlah ayat yang ada di dalamnya, dan di kota mana surat tersebut diturunkan. Untuk mengetahui apakah murid telah memahami, guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik untuk dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Sampai pada akhirnya guru yakin bahwa muridnya telah mengetahui seluk beluk mengenai surat Al-Fatihah. Demikian itu tujuan aspek knowing.

2.    Terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (disebut sebagai aspek  doing). Setelah murid mengetahui konsep mengenai hal-hal yang berkaitan dengan surat Al-Fatihah. Langkah selanjutnya adalah murid diajar untuk terampil melafalkan dan membaca surat Al-Fatihah dengan baik dan benar. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling mudah, untuk langkah pertama, dalam membaca surat Al-Fatihah adalah dengan mengikuti sang guru untuk melafalkan ayat-ayat dari surat Al-Fatihah. Guru melafalkan satu ayat dari surat Al-Fatihah untuk kemudian diikuti oleh murid-muridnya. Bila semua murid (harus semuanya!) telah mampu membaca dan melafalkan surat Al-Fatihah dengan baik dan benar, dan guru yakin bahwa murid-muridnya telah benar-benar terampil dalam membaca dan melafalkan surat Al-Fatihah, maka tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing.


3.    Melaksanakan atau mengamalkan yang ia ketahui itu (atau yang disebut sebagai aspek  being). Konsep itu tidak hanya sekedar untuk diketahui tetapi juga menjadi miliknya dan menyatu dengan kepribadiannya. Dalam contoh di atas, setiap ia hendak membaca Al-Qur’an maka dimulai dengan Al-Fatihah, setiap selesai berdo’a diakhiri dengan membaca Al-Fatihah. Terlebih lagi setiap melaksanakan shalat, maka ia wajib untuk membaca Al-Fatihah. Bahkan dalam berbagai kesempatan ia gemar untuk membaca Al-Fatihah. Inilah tujuan pengajaran aspek being. Pembelajaran untuk mencapai  beingyang tinggi lebih mengarahkan pada usaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalam kehidupan sehari-hari.[1]

Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau yang disebut juga dengan tujuan instruksional, merupakan tujuan yang paling khusus. Tujuan pembelajaran menjadi bagian dari tujuan kurikuler, didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan, misalnya mempelajari surat Al-Fatihah dalam mata pelajaran Al-Qur’an-Hadits. Karena guru lah yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran ini adalah menjadi tugas guru. Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.
Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits bertujuan agar peserta didik gemar untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits dengan benar, serta mempelajarinya,  emahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya. [2]

2.                  Fungsi
Mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits  pada peserta didik  memiliki fungsi sebagai berikut:
1.      Pemahaman, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan cara membaca dan menulis Al-Qur’an serta kandungan Al-Qur’an dan Hadits.
2.      Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
3.      Sumber motivasi, yaitu memberikan dorongan untuk meningkatkan kualitas hidup beragama, bermasyarakat dan bernegara.
4.      Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik dalam meyakini kebenaran ajaran Agama Islam, melanjutkan upaya  yang telah dilaksanakan dalam lingkungan keluarga maupun jenjang pendidikan sebelumnya.
5.      Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat membahayakan diri peserta didik dan menghambat perkembangannya menuju manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.
7.      Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan, pendidikan dan penanaman nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits pada peserta didik sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh kehidupannya.

B.                 PENDEKATAN

Secara garis besar terdapat dua pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh Roy Killen (1998),
 pertama  yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches), dalam pendekatan ini guru menjadi komponen yang paling menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Peran guru dalam pendekatan ini sangat dominan, guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama pendekatan ini adalah kemampuan akademik siswa.
Kedua  adalah pendekatan yang berpusat  ada siswa (student-centred approaches), dalam pendekatan ini menekankan bahwa setiap siswa yang belajar memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan itu baik dalam hal minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman dan cara belajar.

Dilihat dari latar belakang pengetahuan mengenai Al-Qur’an, misalnya, terdapat siswa yang berasal dari keluarga yang disiplin dalam mengenalkan Al-Qur’an sejak dini, dan ada yang biasa-biasa saja bahkan ada siswa yang sama sekali belum mengenal Al-Qur’an. Ditinjau dari gaya belajarnya, ada siswa yang bertipe visual yakni gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatan.
Ada juga siswa yang berkecenderungan auditorial, yakni tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya. Atau ada juga yang lebih menyukai tipe kinestetis, yakni tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa.
Selain itu, dalam pembelajaran Al-Qur’an-Hadits pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan adalah:
pertama pendekatan tujuan. Pendekatan ini digunakan karena didasari oleh pemikiran bahwa setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus ditetapkan terlebih dahulu adalah tujuan yang hendak dicapai. Dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran Al-Qur’an-Hadits sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka kemudian dapat ditentukan metode dan teknik pengajaran yang akan diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
 Kedua  adalah pendekatan struktural. Pendekatan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa Al-Qur’an-Hadits dinarasikan dalam bahasa Arab, yang memiliki kaidah, norma, dan aturannya sendiri, khususnya dalam membaca dan menulisnya. Atas dasar itu, maka pembelajaran Al-Qur’an-Hadits menekankan pada penguasaan kaidah-kaidah pembacaan dan penulisan Al-Qur’an-Hadits dalam bahasa Arab. Lebih khusus lagi Al-Qur ’an memiliki ilmu tersendiri tentang kaidah membacanya yang disebut ilmu tajwid.

Pendekatan lain yang perlu mendapatkan tindak lanjut, sebagaimana yang diutarakan oleh Tolkhah (2004), adalah: 
pertama, pendekatan psikologis ( psichological approach). Pendekatan ini perlu dipertimbangkan mengingat aspek psikologis manusia yang meliputi aspek rasional/intelektual, aspek emosional, dan aspek ingatan. Aspek rasional mendorong manusia untuk berfikir mengenai fungsi dan kedudukan Al-Qur’an-Hadits bagi manusia. Aspek emosional mendorong manusia untuk merasakan bagitu pentingnya Al-Qur’an dan Hadits bagi kehidupan manusia. Sedangkan aspek ingatan dan keinginan manusia didorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan mengahayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Kedua, pendekatan sosio-kultural (socio-cultural approach). Suatu pendekatan yang melihat dimensi manusia tidak saja sebagai individu melainkan juga sebagai makhluk sosial-budaya yang memiliki berbagai potensi yang signifikan bagi pengembangan masyarakat, dan juga mampu mengembangkan sistem budaya dan kebudayaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.

Sedangkan Departemen Agama (2004) menyajikan beberapa pendekatan yang dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits, yaitu:
1.      Pendekatan keimanan/spiritual. Proses pembelajaran yang dikembangkan dengan menekankan pada pengolahan rasa dan kemampuan beriman melalui pengembangan spiritual dalam menerima, menghayati, menyadari, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits, dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman bahwa Al-Qur’an merupakan  kalamullahyang wajib diimani oleh semua umat Islam.

2.      Pendekatan pengamalan. Proses pembelajaran yang dikembangkan dengan menekankan aktivitas peserta didik untuk menemukan dan memaknai pengalamannya sendiri dalam menerima dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam, terutama yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits, dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


3.      Pendekatan pembiasaan. Proses pembelajaran ini dikembangkan dengan memberikan peran terhadap lingkungan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, dalam membangun sikap mental dan membangun masyarakat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, dengan melihat kesanggupan siswa dalam mengamalkan dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan belajar diusahakan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat merasakan kenyamanan dalam mempraktekkan hasil-hasil pembelajaran Al-Qur’an Hadits. Semacam siswa tidak hanya tahu cara melafalkan surat Al-Fatihah, tetapi ia juga gemar untuk melafalkannya dalam berbagai kesempatan. Ataupun siswa telah belajar mengenai hadits tentang kebersihan, maka ia dapat membiasakan untuk mempraktekkan kandungan hadits tersebut.

4.      Pendekatan rasional. Proses pembelajaran dengan menekankan fungsi rasio (akal) peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan kecerdasan intelektualnya dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an Hadits dalam kehidupan sehari-hari. Semacam setelah mempelajari hadits tentang ciri-ciri orang munafiq, maka peserta didik diberi kesempatan untuk menalar bahwa ciri-ciri yang ada dalam diri orang munafik tersebut bersifat negatif yang harus dijauhi.


5.      Pendekatan Emosional. Proses pembelajaran yang dikembangkan dengan menekankan kecerdasan emosional peserta didik dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Terdapat lima unsur dalam kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri (self awarness), pengaturan diri (self regulation), motivasi (motivation), empati (emphaty), dan keterampilan sosial (social skill). Misalnya, ketika telah mempelajari hadits tentang persaudaraan, maka melalui lima komponen kecerdasan emosi tersebut, peserta didik dapat mengamalkannya dengan baik. Pendekatan fungsional. Proses pembelajaran yang dikembangkan dengan menekankan untuk memberikan peran terhadap kemampuan peserta didik dalam menggali, menemukan dan menunjukkan nilai-nilai fungsi tuntunan dan ajaran sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Pendekatan ini menyajikan bentuk standar materi Al-Qur’an dan Hadits dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas sesuai dengan tingkat perkembangannya.

6.      Pendekatan keteladanan. Proses pembelajaran yang dikembangkan dengan memberikan peranan figur personal sebagai contoh nyata dari pengejawantahan nilai-nilai yang dikandung dalam Al-Qur’an dan hadits, dengan tujuan agar peserta didik dapat secara langsung melihat, merasakan, menyadari, menerima, kemudian mempraktekkannya sendiri. Figur guru, kepala sekolah, petugas sekolah dan yang lainnya sebagai figur personal di sekolah maupun orang tua dan seluruh anggota keluarga, dijadikan sebagai cermin manusia yang berkepribadian sebagaimanan yang dituntunkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.[3]








PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasrkan uraian-uraian diatas, penulis menarik bebrapa kesimpulan yaitu :
Tujuan pembelajaran Quran Hadist dirumuskan menjadi analisis terhadap berbagai tuntunan, kebutuhan, dan harapan. Oleh karena itu, tujuan dibuat berdasarkan pertimbangan faktor-faktor masyarakat, siswa itu sendiri. serta ilmu pengetahuan (budaya). Dengan demikian, tujuan pembelajaran meruoakan harapan tentang sesuatu yang diharapkan dari hasil kegiatan pembelajaran kegiatan pembelajaran Quran Hadist.
materi pembelajaran Al-Quran Hadist berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. oleh karena itu, pemilihan pembelajaran Quran Hadist tentu saja harus sejalan dengan kriteria yang digunakan untuk memiih isi kurikulum bidang studi yang bersangkuan.
Perumusan tujuan dan materi pembelajaran Quran Hadist merupakan tugas pokok seseorang guru sebagai langka awal kegiatan pembelajaran untuk mengantarkan siswa mencapai tujuan atau kompotensi dasar yang telah ditetapkan.

B.     Saran
Makalah ini kami susun dengan sangat sederhana, sehingga besar kemungkin banyak kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kebesaran hati teman-teman dan pembaca agar kiranya memberikan kritik dan saran yang dapat melengkapi kekurangan makalah ini.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh





DAFTAR PUSTAKA
Roqib ,Moh, ilmu pendidikan islam, PT LKiSPRINTING CEMERLANG, Cet. 1, 2009,
An Nahlawi, Abdurrohman, Pendidikan Islam Dirumah Sekolah dan Masyarakat,(trj. Drs. Sihabuddin), GEMA INSANI,
http://dualmode.kemenag.go.id/file/dokumen/QH3.pdf




[1] Dr. Moh Roqib, M.Ag, ilmu pendidikan islam, PT LKiSPRINTING CEMERLANG, Cet. 1, 2009, Hal 94
[2] Abdurrohman An Nahlawi, Pendidikan Islam Dirumah Sekolah dan Masyarakat,(trj. Drs. Sihabuddin), GEMA INSANI, Hal. 116
[3] http://dualmode.kemenag.go.id/file/dokumen/QH3.pdf

0 komentar:

Posting Komentar