Selasa, 08 September 2015

TAFSIR: FITRAH BERAGAMA MANUSIA



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Allah Swt. menciptakan manusia dengan dua tujuan, yaitu sebagai hamba yang bertugas untuk
beribadah kepadanya dan sekaligus sebagai khalifah yang bertugas mengelola bumi dengan segala isinya. Ibadah adalah bentuk pengabdian manusia selaku hamba kepada Tuhan yang pantas disembah. Ibadah tidak diartikan secara sempit berupa shalat, zakat, sedekah, haji dan ibadah ritual lainnya. Tapi ibadah dapat berarti luas, yaitu semua yang dilakukan manusia dengan ikhlas dalam rangka menunjukkan ketundukan dan kepatuhannya selaku hamba kepada Tuhan. Bahkan Allah menyebutkan bahwa manusia hanya diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Tugas kekhalifahan sebenarnya juga masuk dalam kategori ibadah dalam artian yang luas.
Untuk kedua tugas di atas, manusia disiapkan oleh Allah dengan beberapa bekal dan potensi. Dengan bekal dan potensi yang dimilikinya, manusia dipersiapkan oleh Allah sebagai makhluk yang pantas mengamban tugas dan tanggung jawab di atas.




PEMBAHASAN
FITRAH BERAGAMA MANUSIA

A.    Q.S. Ar-Rum : 30
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30)
Ayat di atas menjelaskan tentang keadaan fitrah manusia yang selalu condong untuk beragama, atau condong manusia itu bertuhan. Pada ayat di atas, kata faaqim wajhaka (hadapkanlah wajahmu), yang dimaksud adalah perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan  upaya menghadapkan diri kepada Allah, secara sempurna karena selama ini kaum muslimin apalagi Nabi Muhammad e yang telah menghadapkan wajah kepada tuntunan Agama-Nya, dari perintah  yang tersirat di atas, tersirat juga perintah untuk tidak menghiraukan gangguan kaum musyrikin.[1]
Kata fitrah terambil dari kata fathara yang berarti mencipta. Sementara pakar menambahkan fitrah adalah “mencipta sesuatu pertama kali / tanpa ada contoh sebelumnya”. Dengan demikian kata tersebut dapat juga dipahami dengan denganasal kejadian, atau bawaan sejak lahir.[2]
Thahir Ibn Asyur dalam uraiannya tentang fitrah, mengutip terlebih dahulu pendapat pakar tafsir Ibn Athiyyah yang memahami fitrah sebagai “keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu, mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal tuhan dan syari’atnya.[3] Fitah Menurut Ibn Asyur adalah unsur-unsur dan  sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk. Fitrah manusia adalah apa yang diciptakan Allah dalam diri manusia yang terdiri dari jasad dan akal (serta jiwa).
Ibnu Manzhur, seorang pakar Bahasa Arab, menyebutkan kata fitrah berarti sesuatu pengetahuan tentang Tuhan yang diciptakan oleh Allah bagi manusia. Ia berasal dari kata fathara yang berarti penciptaan awal yang belum ada contoh sebelumnya. Di antaranya firman Allah dalam surat Fathir ayat 1 menyebutkan الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ(segala puji bagi Allah sebagai pencipta lagit dan bumi). Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa ia tidak mengetahui makna fathir al-samawati wa al-ardhi sampai pada suatu hari melihat dua orang arab bertengkar tentang kepemilikan sumur. Salah seorang dari mereka menyebutkan ana fathartuha (saya yang pertama membuatnya).[4]
Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Raghib al-Ashfahaniy—seorang pakar dan penyusun kamus bahasa al-Qur’an—juga menyebutkan bahwa fitrah adalah pengetahuan keimanan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Dalam surat al-Zukhruf ayat 87 disebutkan وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ(dan jika engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan mereka, maka mereka akan menjawab Allah)[5]
Agaknya ungkapan dua pakar Bahasa Arab di atas sejalan dengan ungkapan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah sebagaimana dikutip al-Suyuthi:
وأخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم " ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ؟ " ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : اقرأوا ان شئتم فطرة الله التي فطر عليها لا تبديل لخلق الله لذلك الدين القيم
Artinya: Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ibn Munzhir, Ibn Hatim dan Ibn Mardawaih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak satupun bayi yang terlahir kedunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya menganut agama yahudi, nashrani atau majusi. Seperti halnya binatang yang lahir sempurna. Apakah kamu menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali jika kamu yang memotongnya?.” Kemudian Abu Hurairah berkata: bacalah fitrhatallahi (ayat 30 surat al-Rum).
Melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa adanya fitrah keagamaan yang perlu dipertahankan oleh manusia. Bukankah awal ayat ini merupakan perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Rasul Saw., yakni menghadapkan wajah ke agama yang benar? Bukankah itu yang dinamai oleh ayat ini sebagai fitrah? Bukankah itu yang ditunjukkanya sebagai agama yang benar? Jika demikian, ayat ini berbicara tentang fitrah keagamaan.[6]
Ayat di atas mempersamakan antara fitrah dengan agama yang benar, sebagaimana dipahami dari lanjutan ayat yang menyatakan “itulah agama yang lurus”. Jika pernyataan ini dikaitkan dengan pernyataan sebelumnya  bahwa Alllah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu, ini berarti bahwa agama yang benar atau agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah itu.
Sebagai bukti bahwa adanya fitrah beragama atau fitrah ketauhidan yang diberikan kepada manusia adalah dengan adanya kesaksian manusia pada saat sebelum ia dilahirkan ke atas bumi ini. Kesaksian itu adalah menyatakan bahwa Allah sebagai rabb (Tuhan).[7]

B.     Q.S. Al-A’raf : 172
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. Al-A’raf: 172)
Kata jiwa dalam ayat diatas menurut Ikhwan al Shafa adalah substansi ruhaniah yang mengandung unsur langit dan nuraniah, hidup dengan zatnya, mengetahui dengan daya, efektif secara tabiat, mengalami proses belajar, aktif di dalam tubuh, memanfaatkan tubuh, serta memahami bentuk segala sesuatu.[8]
Jiwa itu satu, dan diberi berbagai nama dengan fungsinya daya- dayanya yang beragam. Sedangkan daya jiwa itu ada 3 jenis, yaitu daya jiwa tumbuh-tumbuhan, daya jiwa hewan, dan daya jiwa rasional.[9]
Daya jiwa tumbuh-tumbuhan berpusat dihati dan memiliki sifat diantaranya, hasrat untuk makan dan minum, menyerap, tumbuh, merasakan dan membedakan antara enam arah, menyebarkan akar ke segala arah yang rendah dan tanah yang lembut, mengarahkan dahan dan ranting ke arah luas, kecenderungan,  menghindari tempat-tempat yang sempit dan fisik yang menyiksa.[10]
Jiwa hewan berpusat dijantung, dan memiliki sifat diantaranya adalah ; sahwat seksual, sahwat kepemimpinan dll.[11]
Jiwa rasional berpusat diotak memiliki sifat dan daya disamping sifat dan daya yang ada pada tumbuh-tumbuhan dan sifat dan daya pada hewan. Sifat dan daya rasional ini memiliki hasrat untuk mendapatkan, memperluas dan membanggakan diri, mengwembangkan ilmu pengetahuan, untuk berkarya, berseni dan merasa tinggi untuk mencapai tujuan.[12]
Jiwa rasional ini memiliki akal gharizi (instink), yaitu akal yang ada pada setiap orang dan bisa ditemukan dalam wataknya sendiri tanpa melalui perantara.[13]  Jiwa rasional melaksanakan fungsinya yang dinisbahkan pada akal. Jiwa rasional atau akal menurut Ibnu Sina adalah kesempurnaan pertama bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku ekstensial berdasarkan ikhtiyar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia mempersepsi sama persoalan universal.[14]
Menurut Ibnu Hazm akal adalah kemampuan membedakan yang utama dari yang nista, melaksanakan tujuan yang baik bagi tujuan di alam keabadian.[15]Intinya akal adalah sesuatu yang membedakan dan mampu memilih mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap  buruk. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika mencari pengetahuan tentang Tuhan. Dan dia telah ditunjukkan oleh Allah melalui akalnya tentang siapa Tuhan yang benar itu. Sehingga dia kemudian tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, dan dia juga pengikut agama yang benar, yaitu agama yang mengajarkan tentang keesaan Allah.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kebutuhan umat manusia terhadap kekuasaan dan pengaturan Allah adalah suatu hal yang fitrah, yang telah tertanam dalam jiwa manusia sejak ia dilahirkan. Ayat ini menceritakan saat ketika Allah menerima janji-janji dari umat manusia yang berisi pengakuan di atas ketuhanan Allah Ta’ala. Kelak di Hari Kiamat, Allah akan menanyai setiap manusia tentang pelaksanaan janji yang pernah mereka ucapkan itu. Meskipun dalam al-Quran tidak dijelaskan bagaimana bentuk pengambilan janji tersebut, namun para mufassir telah menjelaskan masalah ini. Sebagian mufassir menyatakan bahwa ketika benih manusia keluar dari sulbi bapak dan tertanam dalam rahim ibu, Allah telah menanamkan fitrah keimanan dan keinginan untuk mencari kebenaran kepada-Nya dan fitrah ini diberikan Allah kepada semua manusia.
Oleh sebab itu, setiap orang pasti memiliki kecenderungan dalam hatinya untuk mengenal Allah Swt dan bergerak menuju ke jalan-Nya. Fitrah yang ditanamkan oleh Allah kepada seluruh manusia ini merupakan sebuah hujjah bagi semua umat manusia. Kelak pada Hari Kiamat, mereka tidak bisa lagi berkata, "Kami menjadi musyrik karena mengikuti ayah-ayah kami, sehingga tidak ada jalan lain bagi kami,"atau, "Kami terlupa terhadap masalah ini dan tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan pencipta jagat raya ini."

C.    Q.S. Yunus : 22
هُوَٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ وَفَرِحُواْ بِهَا جَآءَتۡهَا رِيحٌ عَاصِفٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ٢٢
Artinya: Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur" (Q.S. Yunus : 22)
Ayat ini dapat menjadi salah satu bukti cepatnya Allah I membalas makar dengan menampilkan contoh pengalaman manusia ketika berada di lautan lepas. Uraian ayat ini menjadi bukti pula bagaimana Allah I dengan cepat dapat mengubah nikmat/rahmat-Nya dengan petaka betapa buruk sifat manusia yang idah tahu terima kasih.[16]
Dialah yang maha kuasa itu, bukan selainya yang menjadikan kamu wahai manusia yang tidak pandai bersyukur melalui potensi yang dianugerahkannya serta hukum-hukum alam yang ditetapkannya, dapat berjalan dengan cepat di lautan baik dengan berjalan kaki maupun dengan berkendaraan, dan menjadikan juga kamu dapat berlayar di lautan melalui bahtera yang berlayar di air. Sehingga apabila kamu telah berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa mereka, yakni orang-orang yang ada di dalamnya dengan kekuatan tiupan angin yang baik yang dapat mengantar mereka ke tujuan, dan dengan demikian mereka merasa tenang berlayar dan bergembira karenanya, yakni dengan keadaan yang mereka alami itu tiba-tiba mencekam mereka, dan datang pula gelombang dari segenap penjuru menimpa bahtera mereka, dan ketika itu mereka menduga, yakni yakin bahwa mereka telah terkepung oleh bahaya dan segera binasa sehingga mereka semakin cemas. Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan diri kepada-Nya, yakni tidak mempersekutukannya, yakni bahwa dia semata-mata yang dapat menyelamatkan mereka. Dalam doanya mereka berkata “sesungguhnya jika engkau wahai Yang Maha Esa lagi Maha Pengasih menyelamatkan kami dari bahaya ini, maka kami berjanji demi kekuasaanmu pastilahkami akan termasuk kelompok orang-orang yang bersyukur, yakni yang benar-benar menghayati dan mengamalkan kesyukuran dalam bentuk sempurna dan yang menjadikan kami wajar masuk dalam kelompok terkemuka itu.[17]



 

PENUTUP
            A.    Kesimpulan
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kebutuhan umat manusia terhadap kekuasaan dan pengaturan Allah adalah suatu hal yang fitrah, yang telah tertanam dalam jiwa manusia sejak ia dilahirkan. Ayat ini menceritakan saat ketika Allah menerima janji-janji dari umat manusia yang berisi pengakuan di atas ketuhanan Allah Ta’ala. Kelak di Hari Kiamat, Allah akan menanyai setiap manusia tentang pelaksanaan janji yang pernah mereka ucapkan itu. Meskipun dalam al-Quran tidak dijelaskan bagaimana bentuk pengambilan janji tersebut, namun para mufassir telah menjelaskan masalah ini. Sebagian mufassir menyatakan bahwa ketika benih manusia keluar dari sulbi bapak dan tertanam dalam rahim ibu, Allah telah menanamkan fitrah keimanan dan keinginan untuk mencari kebenaran kepada-Nya dan fitrah ini diberikan Allah kepada semua manusia.
Benar ungkapan Allah yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik (Q.S. al-Tin/ 95: 4). Tidak ada makhluk lain yang diciptakan oleh Allah yang sama dengan manusia. Penciptaan yang terbaik itu tidak hanya terkait dengan fisik saja, tapi juga dengan potensi-potensi lainnya. Ada banyak potensi diberikan kepada manusia yang tidak semuanya diberikan kepada makhluk lain.
           B.     Saran
Kami sebagai penulis apabila dalam penulisan dan penyusunan ini terdapat kekurangan dan kelebihan maka kritik dan saran dari pembaca dan pembimbing kami harapkan sehingga dalam pembuatan makalah yang selanjutnya lebih baik dari yang sebelumnya kami hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan sehingga tanpa dukungan dan saran pembimbing sangat jauh bagi kami untuk mencapai kesempurnaan.


DAFTAR PUSTAKA
Shihab.M. Quraisy, 2002. Tafsir Al-Misybah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,Jakarta : Lentera Hati,Vol. XI
Muhammad. Abû al-Fadhl Jamâl al-Dîn bin Mukarram bin Manzhûr al-Afrîqî al-Mishrî, 1990, Lisân al-‘Arab,Beirut: Dâr Shâdir, Format PDF.
al-Ashfahâniy. Al-Râghib, Mufradât Alfâz al-Qur`ân, Maktabah Syamilah
al-Qurthubiy, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, (naskah di-tahqîq oleh Hisyâm Syamîr al-Bukhâriy), maktabah Syamilah
Najati.Muhammad Ustman, 1993, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet I


0 komentar:

Poskan Komentar