Senin, 12 Mei 2014

KETERAMPILAN MELAKSANAKAN PRETEST DAN MEMOTIVASI SISWA

KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Pada hakekatnya hampir semua orang ingin dihargai. Hal ini menunjukkan picfasbahwa memperoleh penghargaan merupakan salah satu tuntutan setiap orang dalam hidupnya sehari-hari. Karena itu jika seseorang membutuhkan penghargaan yang lebih akan mendorong dirinya untuk memperbaiki tingkah laku dan mening katkan cara kerjanya.
Dalam proses pembelajaran penghargaan juga mempunyai arti yang penting. Karena dengan penghargaan memberikan penguatan atas tingkah laku positif peserta didik. Dan akan mendorong dirinya untuk mengambil inisiatif serta bersemangat dalam belajar.Untuk itu menerapkan keterampilan memberikan penguatan secara sistematis berdasarkan cara dan prinsip yang tepat akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Penguatan (motivasi) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang betujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi siswa atas jawaban atau perbuatannya sebagai suatu motivasi ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar. Penguatan diberikan dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, mengontrol dan memotivasi perilaku yang negatif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memelihara iklim kelas yang kondusif.
Penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari begitu juga dengan siswa, dengan memberikan penghargaan akan mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatan usahanya, dan hal tersebut diasumsikan jarang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Dengan memberikan penghargaan kepada siswa seorang guru dapat dikatakan secara langsung telah memberikan perhatian yang tersendiri bagi siswa yang bersangkutan dan hal tersebut akan mampu membangkitkan dan mempertahan motivasi untuk lebih berprestasi. Disamping itu dengan memberikan penghargaanatau penguatan akan mampu mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku belajar yang lebih produktif dan tentunya memberikan semangat emosional tersendiri bagi siswa.
Untuk menghilangkan kesulitan dan pelebaran pembahasan, maka penulis hanya akan membahas bagian tertentu, yaitu:
1. Keterampilan membuat PreTest
2. Keterampilan memotivasi siswa, serta
3. Hal-hal yang berkaitan dengan
Karna kecintaan terhadap ilmu lah tulisan ini dibuat, serta untuk menambah wawasan dan pemahaman dalam bidang pembeuatan PreTest dan memotivasi siswa, sebab siswa/peserta didik membutuhkan support yang terus beraada disampingnya.
Tulisan ini juga diperuntukkan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Micro Teaching1, yang dibimbing oleh Ibunda Dra. Hj, Khadijah Ismail, MA.
Terima kasih banyak akan terus penulis sampaikan kepada kawan-kawan semester VI PAI STAI YAPTIP atas kerja sama dan kekompakannya dalam menyelesaikan tugas ini. juga terima kasih yang tak terhingga secara khusus penulis sampaikan kepada Ibunda Pembimbing yang dengan setianya membimbing Mata Kuliah ini sampai selesai pada pembahasan ini dan pembahasan-pembahasan berikutnya. Wallohu A’lam
STAY YAPTIP Simpang Empat, 06 Arpril 2014
Penulis
PEMBAHASAN
KEMAMPUAN MEMBUAT PRETES DAN MEMOTIVASI SIWA
KEMAPUAN MEMBUAT PRETES
A. Pengertian
Secara bahasa berasal darikata Pra diartikan dengan sebelum[1] dan Tes diartikan dengan wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang.[2]
Pre Test Yaitu suatu bentuk pertanyaan, yang dilontarkan guru kepada muridnya sebelum memulai suatu pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah materi yang akan diajar pada hari itu (materi baru). Pertanyaan itu biasanya dilakukan guru di awal pembukaan pelajaran. Pre test diberikan dengan maksud untuk mengetahui apakah ada diantara murid yang sudah mengetahui mengenai materi yang akan diajarkan. Pre test juga bisa di artikan sebagai kegiatan menguji tingkatan pengetahuan siswa terhadap materi yang akan disampaikan, kegiatan pre test dilakukan sebelum kegiatan pengajaran diberikan. Adapun manfaat dari diadakannya pree test adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang disampaikan. Dengan mengetahui kemampuan awal siswa ini, guru akan dapat menentukan cara penyampaian pelajaran yang akan di tempuhnya nanti.[3]
Juga disebutkan bahwa Pre Tes adalah suatu bentuk pertanyaan, yang dilontarkan guru kepada muridnya sebelem memulai suatu pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah materi yang akan diajar pada hari itu (materi baru). Pertanyaan itu biasanya dilakukan guru diawal pembukaan pelajaran. Pre test diberikan dengan maksud apakah ada diantara murid yang sudah mengetahui mengenai materi yang akan diajar.[4]
Pre test adalah salah satu jenis tes yang dilaksanakan pada awal pembelajaran. Materi pre test diambil dari seluruh materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Butir soal pre test dikembangkan untuk mengukur semua tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil pre test belum tentu lebih rendah dari post test, sebab informasi tentang materi pelajaran bisa didapatkan siswa dari banyak sumber seperti TV, koran, majalah internet dan lain-lain sebelum ia mendapatkannya dari sekolah. Dengan demikian sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan oleh guru kemungkinan telah dikuasai siswa. Jika ini terjadi maka tugas guru tinggal menyampaikan materi yang belum dikuasai siswa saja.[5]
B. Manfaat Pre Tes
pre-test ini dilakukan setelah membina keakraban dan mempunyai banyak fungsi diantaranya3:
1. Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre-test maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka jawab atau kerjakan.
2. Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre-tes dengan post-test.
3. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topic dalam proses pembelajaran. [6]
4. Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai. Tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.
5. Menilai kemampuan-kemampuan murid yang tercantum dalam TIK, sebelum mereka mengikuti program pengajaran.[7]
Untuk mencapai fungsi-fungsi tersebut maka hasil pre-test harus diperiksa dan pada waktu memeriksa pre-test perlu diberikan kegiatan lain.
C. Cara Mengetahui Kemampuan Awal Siswa (Pre Tes)
Ada beberapa strategi/cara yang dapat guru lakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, misalnya:
  1. Asesmen Kemampuan Awal Siswa Berbasis Kinerja /Asesmen pengetahuan awal siswa
  2. Asesmen Kemampuan Awal Mandiri (Self Assessment) /Asesmen pengatahuan awal mandiri
  3. Peta Konsep / Concept map. Berikut penjelasan masing-masing cara tersebut:
Asesmen Kemampuan Awal Siswa Berbasis Kinerja
Cara paling reliabel dalam melakukan asesmen ini adalah dengan memberikan sebuah tugas, dapat berupa kuis, atau bentuk lain, yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan diberikan, yang dalam pengerjaan tugas tsb akan memerlukan penggunaan pengetahuan awal yang telah mereka miliki sebelum mengikuti pembelajaran anda. Tentunya, saat merancang kuis atau tugas tersebut, terlebih dahulu guru mengidentifikasi pengetahuan prasyarat atau keterampilan prasyarat apa yang diperlukan untuk pembelajaran yang akan dilakukan.
Asesmen Kemampuan Awal Mandiri (Self Assessment)
Untuk melakukan cara yang kedua ini, guru dapat membuat sebuah angket singkat untuk evaluasi mandiri (evaluasi diri) setiap peserta didik yang akan mengikuti pembelajaran. Cara ini sebenarnya relatif mudah dilakukan, karena angket yang dibuat sederhana saja. [8]
Peta Konsep
Ternyata peta konsep dapat dijadikan alat untuk mengecek pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Caranya, tuliskan sebuah kata kunci utama tentang topik yang akan dipelajari hari itu di tengah-tengah papan tulis. Misalnya "Fotosintesis". Berikutnya guru meminta siswa menyebutkan atau menuliskan konsep-konsep yang relevan (berhubungan) dengan konsep fotosintesis dan membuat hubungan antara konsep fotosintesis dengan konsep yang disebut (ditulisnya) tadi. Seberapa pengetahuan awal yang dimiliki siswa dapat terlihat sewaktu mereka bersama-sama membuat peta konsep di papan tulis. Cara lain misalnya dengan memberikan sebuah peta konsep yang hanya berisi konsep utama, sementara itu siswa harus mengisi kotak-kotak kosong yang telah disediakan pada peta konsep itu dengan konsep yang relevan.Seberapa banyak kotak kosong pada peta konsep yang tidak lengkap itu dapat diisi oleh siswa, adalah indikasi seberapa pengetahuan awal yang mereka miliki.[9]
KEMAMPUAN MEMOTIVASI SISWA
A. Pengertian Motivasi
Motivasi menurut bahasa diartikan sebagai : usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.[10] Dalam bahasa Inggris diartikan sebagai : Motivate “make sb want to do”.[11]
Motivasi Menurut Para Ahli :
1. Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman mengemukakan, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahulu dengan tanggapan terhadap adanya tujuan[12]
2. Tabrani Rusyan berpendapat, bahwa motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan[13]
3. Heinz Kock memberikan pengertian, motivasi adalah mengembangkan keinginan untuk melakukan sesuatu.[14]
4. Dr. Wayan Ardhan menjelaskan, bahwa motivasi dapat dipadang sebagai suatu istilah umum yang menunjukkan kepada pengaturan tingkah laku individu dimana kebutuhan-kebutuhan atau dorongan-dorongan dari dalam dan insentif dari lingkungan mendorong individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya atau untuk berusaha menuju tercapainya tujuan yang diharapkan.[15]
5. Gleitman dan Reiber yang dikutip oleh Muhibbin Syah berpendapat, bahwa motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.[16]
Dari beberapa pendapat diatas, dpat diketahui bahwa motivasi adalah berbagai upaya yang dilakukan seseorang untuk menguatkan orang lain dalam melakukan sesuatu.
B. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan dan mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar. Tidak bisa kita pungkiri bahwa motivasi belajar siswa satu dengan yang lain sangat berbeda, untuk itulah penting bagi guru selalu senantiasa memberikan motivasi kepada siswa supaya siswa senantiasa memiliki semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang beprestasi serta dapat mengembangkan diri secara optimal.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Berikut ini dikemukakan beberapa petunjuk untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa terhadap tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa.[17] Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.
2. Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh karena itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar .[18] Salah satu cara yang logis untuk momotivasi siswa dalam pembelajaran adalah mengaitkan pengalaman belajar dengan minat siswa (Djiwandono, 2006:365). Pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting, dan karena itu tunjukkanlah bahwa pengetahuan yang dipelajari itu sangat bermanfaat bagi mereka. Demikian pula tujuan pembelajaran yang penting adalah membangkitkan hasrat ingin tahu siswa mengenai pelajaran yang akan datang, dan karena itu pembelajaran akan mampu meningkatkan motivasi instrinsik siswa untuk mempelajari materi pembelajaran yang disajikan oleh guru.[19]
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Siswa hanya mungkin dapat belajar baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-kali dapat melakukan hal-hal yang lucu.
4. Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik
Guru harus mampu menyajikan informasi dengan menarik, dan asing bagi siswa-siswa. Sesuatu informasi yang disampaikan dengan teknik yang baru, dengan kemasan yang bagus didukung oleh alat-alat berupa sarana atau media yang belum pernah dikenal oleh siswa sebelumnya sehingga menarik perhatian bagi mereka untuk belajar.[20] Dengan pembelajaran yang menarik, maka akan membangitkan rasa uingin tahu siswa di dalam kegiatan pembelajaran yang selanjutnya siswa akan termotivasi dalam pembelajaran.
Motivasi instrinsik untuk belajar sesuatu dapat ditingkatkan melalui penggunaan materi pembelajaran yang menharik, dan juga penggunaan variasi metode pembelajaran. Misalnya, untuk membAngkitkan minat belajar siswa dapat dilakukan dengan cara pemutaran film, mengundang pembicara tamu, demonstrasi, komputer, simulasi, permaianan peran, belajar melalui radio, karya wiasata, dan lainnya.[21]
5. Berilah pujian yang wajar setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Dalam pembelajaran, pujian dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena anak didik juga manusia, maka dia juga senang dipuji. Karena pujian menimbulkan rasa puas dan senang.[22] Namun begitu, pujian harus sesuai dengan hasil kerja siswa. Jangan memuji secara berlebihan karena akan terkesan dibuat-buat. Pujian yang baik adalah pujian yang keluar dari hati seoarang guru secara wajar dengan maksud untuk memberikan penghargaan kepada siswa atas jerih payahnya dalam belajar.[23]
6. Berikan penilaian
Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.[24]
Penilaian secara terus menerus akan mendorong siswa belajar, oleh karena setiap anak memilki kecenderungan untuk memmperoleh hasil yang baik. Disamping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorongnya belajar lebih teliti dan seksama.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pre Test Yaitu suatu bentuk pertanyaan, yang dilontarkan guru kepada muridnya sebelum memulai suatu pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah materi yang akan diajar pada hari itu (materi baru). Pertanyaan itu biasanya dilakukan guru di awal pembukaan pelajaran. Pre test diberikan dengan maksud untuk mengetahui apakah ada diantara murid yang sudah mengetahui mengenai materi yang akan diajarkan. Pre test juga bisa di artikan sebagai kegiatan menguji tingkatan pengetahuan siswa terhadap materi yang akan disampaikan, kegiatan pre test dilakukan sebelum kegiatan pengajaran diberikan. Adapun manfaat dari diadakannya pree test adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang disampaikan. Dengan mengetahui kemampuan awal siswa ini, guru akan dapat menentukan cara penyampaian pelajaran yang akan di tempuhnya nanti
Meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan dan mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar. Tidak bisa kita pungkiri bahwa motivasi belajar siswa satu dengan yang lain sangat berbeda, untuk itulah penting bagi guru selalu senantiasa memberikan motivasi kepada siswa supaya siswa senantiasa memiliki semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang beprestasi serta dapat mengembangkan diri secara optimal.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Berikut ini dikemukakan beberapa petunjuk untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
B. Saran
Demi khasanah keilmuan, dan kesempurnaan tulisan ini, kritikan, saran dan masukan dari saudara/i sangat dibutuhkan, buat kebaikan pemahaman kita di hari yang akan datang
DAFTAR PUSTAKA
A. Sardiman, 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. CV. Rajawali Pers. Jakarta.
Anni. Catharina Tri dkk, 2006. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Ardhana. Wayan, 1985. Pokok-pokok Jiwa Umum. Usaha Nasional.Surabaya.
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Djamarah. Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik. Oemar, 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Hamid. Farida, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya: Penerbit Apollo.
Ismawati. Esti, 2010. Perencanaan Pengajaran bahasa. Surakarta : Yuma Pustaka.
Kcok. Heinz, 1991. Saya Guru Yang Baik. Yogyakarta : Kanisius.
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University
Rusyan. Tabrani, dkk. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Sanjaya. Wina, 2010. Strategi Pembelajara. Jakarta; Kencana Prenada Media Group.
Syah. Muhibbin, 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.



[1] Farida Hamid, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya: Penerbit Apollo), hal. 507
[2] Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2001), Hlm. 1456
[7] Esti Ismawati, Perencanaan Pengajaran bahasa, (Surakarta : Yuma Pustaka, 2010), Cet. I, Hlm. 13
[10] Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Op. Cit. Hlm. 930
[11] Oxfort University, Oxfort Learners Pocket Dictionary, (Oxfort University Prss,2008), Hlm.286
[12] Sardiman A., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. CV. Rajawali Pers. Jakarta. 1990. hlm: 73
[13] Tabrani Rusyan, dkk Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Rosdakarya. Bandung. 1989, hlm:95
[14] Heinz Kcok, Saya Guru Yang Baik, Yogyakarta : Kanisius. 1991, hlm:69
[15] Wayan Ardhana, Pokok-pokok Jiwa Umum. Usaha Nasional.Surabaya 1985. hlm: 165
[16] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2002 hlm. 136
[17] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajara., (Jakarta; Kencana Prenada Media
Group, 2010), Hlm 29
[18] Wina Sanjaya. Ibid
[19] Catharina Tri Anni, dkk.. Psikologi Belajar. (Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. 2006), Hlm. 186
[20] http://uviedogawa.blogspot.com/2013/11/materi-peran-guru-dalam-meningkatkan.html
[21] Catharina Tri Anni, dkk.. Op. Cit.
[22] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), Hlm. 167
[23] Zain Djamarah, Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), Hlm. 152
[24] Wina Sanjaya. Op. Cit. Hlm. 31

0 komentar:

Poskan Komentar