Senin, 12 Mei 2014

INOVASI KURIKULUM KBK dan KBM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Rumusan Masalah
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses 882675054-kurikulum1pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri, pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berlangsung dengan berbarengan.
Berbicara tentang proses pendidikan sudah tentu tidak dapat dipisahkan dengan semua upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan manusia yang berkualitas itu, dilihat dari segi pendidikan. Telah terkandung secara jelas dalam tujuan pendidiakn nasional.
Dalam dunia pendidikan, kurikulum berperan aktif untuk membentuk karakter bangsa, melalui materi-materi hingga kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan di Sekolah ataupun di luar sekolah. Menurut sejarah, kurikulum berkembang mulai dari dipublikasikannya buku The Curiculum yang ditulis oleh Franklin Bobbit pada tahun 1918. Di Indonesia, kurikulum juga sudah dikenal sejak lama, yang terakhir kita dengar adalah kurikulum KTSP, KBK, dan sekarang di perbaiki lagi menjadi kurikulum 2013. Itu semua dilakukan adalah dengan dalih alasan kebutuhan masyarakat dan bangsa yang selalu berubah-ubah sesuai dengan zaman dan teknologi yang diganakan pada saat itu.
Inovasi kurikulum adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk memperbaharui kurikulum itu, guna menjawab kebutuhan tadi. Maka, karena itu lah tulisan ini sengaja dibuat untuk menjadi bahan bahasan dan perbandingan untuk calon-calon pendidik, terutama kawan-kawan yang duduk disemster VI Tarbiyah, Jurusan PAI STAI YAPTIP.
B. Batasan Masalah
Masalah Inovasi kurikulum sangat banyak sekali dan bahasannya sungguh sangat kompleks dan mencakup berbagai priode perkembangan kurikulum. Namun dalam tulisan ini, penulis membatasi diri hanya membahas poin-poin tertentu, mengingat betapa singkatnya waktu, dan minimnya biaya. Maka dengan sengaja, penulis hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan:
1. Inovasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
2. Inovasi Kurikulum Berbasis Masyarakat, dan
3. Sebagian hal yang berkaitan dengan pengembangannya.
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan utama penulisan ini adalah sebagai Khasanah Keilmuan, untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang sebagia hal yang mencakup tentang Inovasi Kurikulum. juga untuk menjadi masukan bagi para calon pendidik atau Kepala sekolah agar dapat memanfaatkan Kurikulum itu dengan baik di sekolahnya.
Tulisan ini juga diperuntukkan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Inovasi Pendidikan, yang dibimbing oleh Bapak c. Dr. Padriadi. S.Pd., M.Pd.
Akhirnya, hanya terima kasih yang banyaklah yang dapat penulis sampaikan kepada semua pihak yang mendukung selesainya penulisan ini, mulai dari kawan-kawan yang telah mendudukung dengan berbagai pemikiran dan berbagai referensi, juga terima kasih yang tak terhingga secara khusus penulis sampaikan kepada Bapak Pembimbing yang dengan setianya membimbing Mata Kuliah ini sampai selesai pada pembahasan ini dan pembahasan-pembahasan berikutnya. Wallohu A’lam
STAY YAPTIP Simpang Empat, 26 Maret 2014
Penulis
BAB II
PEMBAHASAN
INOVASI KURIKULUM
A. INOVASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
1. Pengertian
a. Inovasi
Inovasi diartikan sebagai “1 pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan; 2 penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode atau alat)[1]
Inovasi “innovate” ; new things, ideas of ways of doing,;introduction of new tings, ideas.[2]
Inovasi seringkali diartikan pembaharuan, penemuan dan ada yang mengaitkan dengan modernisasi. Menurut Nicholls (1982: 2) penggunaan kata perubahan dan inovasi sering tumpang tindih. Pada dasarnya inovasi adalah ide, produk, kejadian atau metode yang dianggap baru bagi seseorang atau sekelompok orang atau unit adopsi yang lain. Baik itu hasil invensi maupun hasil discovery. (Ibrahim, 1998: 1 ; Hanafi, 1986: 26 ; Rogers, 1983: 11).[3]
Inovasi merupakan suatu ide barang atau kejadian, metode yang dirasakan atau yang diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang baik itu berupa hasil invensi maupun discoveri. Juga disebutkan bahwa inovasi adalah sesuatu yang dianggap baru yang dapat membrikan kesan yang lebih jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.
b. Kurikulum
Secara harfiyah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran.[4] Kata kurikulum selanjutnya menjadi suat istilah yang digunakan untuk menunjukkan pada sejumlah mata pelajaran yang ditempuh untuk mencapai suat gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crow and Crow yang mengatkan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis, sebagai syarat untuk menyelesaikan suat program pendidikan tertentu.[5]
Kurikulum menurut para ahli yang lain:
ü Oemar Hamalik (2013: 17) kurikulum adalah suatu perogram pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.[6]
ü Zakiyah Darajat (1992: 121) kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.[7]
ü Dr. Addamardhasyi Sarhan dan Munir Kamil yang disitir oleh Syaibani dalam Ramayulis (2012: 231) kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah taga, dan Kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.[8]
c. Kompetensi
Kompetensi, Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Disebutkan, Kompetensi (kompetensi) E: (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal[9].lebih jelas lagi Farida Hamid menyebutkan, Kompetensi: Kecakapan; kewenangan; kekuasaan; kemampuan.[10]
ü McAshan dalam Wuna Sanjaya (2008: 6) kompetensi itu adalah suat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga mewarnai prilaku kognitif, afektif dan psikomotoriknya.[11]
ü Udin Syaefudin Sa’ud (2010: 44) kompetensi itu pada dasarnya menunjukkan kepada kecakapan atau kemampuan untuk mngerjakan sesuatu pekerjaan.
Inovasi Kurikulum adalah suatu pembaharuan atau gagasan yang diharapkan membawa dampak terhadap kurikulum itu sendiri. Kurikulum hanyalah alat atau instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan. Kurikulum bukan sebagai tujuan akhir. Seiring dengan perubahan masyarakat dan nilai-nilai budaya, serta perubahan kondisi dan perkembangan peserta didik, maka kurikulum juga mengalami perubahan. Perubahan / inovasi tersebut[12]
KBK adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan atau kompetensi tugas-tugas dengan standar kompetensi tertentu. Sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK Diarahkan untuk mengembangkan Pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
2. Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi
Secara jelas tujuan pendidiakn Nasional yang bersumber dari sistem nilai Pancasila dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 khususnya pasal 3 “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[13]
Oleh sebab itulah, maka perlu disusun sebuah sistem kurikulum yang basisnya adalah kompetensi seluruh peserta didik (KBK). Makna yang terkandung dan tersirat dalam KBK terdiri dua hal, yaitu: pertama KBK mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua KBK memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing.
Berdasarkan makna tersebut, makan KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki karakteristik utama sebagai berikut: Pertama, KBK memuat sejumlah kompetensi dasar sebagai kemampuan standar minimal yang harus dikuasai dan dicapai siswa. Kedua, implementasi pemebelajaran dalam KBK menekankan pada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. Ketiga, evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi dan proses belajar.[14]
Wina Sanjaya[15] (2008: 24-25) terdapat sejumlah prinsip dalam pengembangan KBK, yaitu:
a. Kesamaan memperoleh kesempatan
b. Berpusat pada anak
c. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
d. Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
3. Prinsip pembelajaran dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Adapun beberapa prinsip pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam rangka menunjang hasil belajar yang efektif dan efesien, menurut Puskur (Balibang Depdiknas, 2002) rambu-rambunya sebagai berikut[16]:
a. Kesempatan untuk belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami proses, produk, keterampilan dan nilai yang diharapkan.
b. Pengetahuan awal siswa, kegiatan pembelajaran perlu mengaitkan pengalaman belajar yang dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa serta disesuaikan dengan keterampilan dan nilai yang dimiliki siswa sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan cara pandang dan cara tindak sehari-hari.
c. Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakanpengalaman belajar yang bermakna yang mampu mendorong tindakan dan renungan (refleksi) pada setiap siswa.
d. Memotivasi, kegiatan pembelajaran harus mampu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi dan kejelasan tujuan.
e. Keragaman individu, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman pembelajaran yang mampu membedakan kemampuan individu yang satu dengan yang lain sehingga variasi metode mengajar mutlak diperlukan.
f. Kemandirian dan kerjasama, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar mandiri maupun melakukan kerjasama.
g. Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan situasi agar siswa belajar secara efektif.
h. Belajar untuk kebersamaan, kegiatan pembelajaran menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi bagi orang lain.
i. Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan pembelajaran menyediakan pengalaman belajar yang mengakomodasikan pandangan bahwa pembangunan gagasan adalah siswa, sedangkan guru hanya sebagai menyediakan kondisi supaya peristiwa belajar tetap berlangsung.[17]
j. Rasa ingin tahu, kreativitas dan ketuhanan, kegiatan pembelajaran menyediakan pengalaman belajar yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan selalu mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
k. Menyenangkan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan siswa, seperti pembelajaran kuantum.
l. Interaksi dan komunikasi, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif baik mental, fisik maupun sosial.
m. Belajar cara belajar, kegiatan pembelajaran kompetensi memerlukan pengalaman belajar yang memuat keterampilan belajar, sehingga siswa menjadi terampil belajar bagaimana cara belajar.
B. KURUKULUM BERBASIS MASYARAKAT
Isjoni (2006: 13) memberikan kritik “manajemen yang berbasis paradigma borikrasi harus digeser menjadi menjadi manajemen berbasis paradigma pemberdayaan instusional dan personal dalam wujud model manajemen berbasis sekolah dan pendidikan berbasis masyarakat.”[18]
Kurikulum berbasis masyarakat yang bahan dan objek kajiannya kebijakan dan ketetapan yang dilakukan di daerah, disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam, sosial, ekonomi, budaya dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang perlu dipelajari oleh siswa di daerah tersebut. Bagi siswa berguna untuk memberikan kemungkinan dan kebiasaan utnuk akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Kemungkinan lain mencegah dari keterasingan lingkungan, terbiasa dengan budaya dan adat istiadat setempat dan beusaha mencintai lingkungan hidup, sehingga sebuta kurikulum ini disebut kurikulum berbasis wilayah.[19]
1. Prinsip Kurikulum Berbasis Masyarakat
Kurikulum yang disusun oleh pemerintah, untuk digunakan oleh sekolah-sekolah, disebut dengan kurikulum resmi. Substansi dari kurikulum resmi adalah rencana belajar tertulis. Apa yang tertuang dalam suat kurikulum resmi biasanya merupakan sesuatu yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan pendidikan, atau suat harapan.[20]
pengembangan kuriukulum lokal belum maksilam, karena juklak atau juknis belum terencana dengan baik, terkesan belum diimplementasikan sesuai dengan potensi daerah. padahal, bila kita cermati kurikulum lokal memberikan kesempatan kepada daerah untuk memberdayakan sumber daya yang ada. SDM atau SDA-nya. kurikulum lokal belum merujuk kepada penguasaan keterampilan praktis, akan tetapi lebih berkesan teoritis. perlu disusun kembali kurikulum berbasis lokal, sehingga masing-masing daerah akan mengembangkan kurikulum berbeda, sesuai dengan potensi daerah.[21]
pendidikan berbasis masyarakat (PBM) atau Community Based Education. disini masyarakat diberikesempatan untuk mnyelenggarakan pendidikan. di sisi lain peluang besar yang diberikan pemerintah hendaknya dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Tujuan kurikulum tersebut adalah:
¨ Memperkenalkan siswa terhadap lingkungannya, ikut melestarikan budaya termasuk kerajinan, keterampilan yang dinilai ekonominya tinggi di daerah tersebut.
¨ Membekali siswa kemampuan dan keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup dimasyarakat, seandainya mereka tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
¨ Membekali siswa agar hidup mandiri, serta dapat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Komponen-komponen kurikulum berbasis masyarakat[22]
Komponen-komponen kurikulum berbasis masyarakat meliputi:
¨ Tujuan dan filsafat pendidikan dan psikologi belajar.
¨ Analisis kebutuhan masyarakat sekitar termasuk kebutuhan siswa.
¨ Tujuan kurikulum (TUK dan TKK)
¨ Pengorganisasian dan implementasi kurikulum.
¨ Tujuan pembelajaran (TPU dan TPK)
¨ Strategi pembelajaran mencakup model-model pembelajaran.
¨ Teknik evaluasi (proses dan produk).
¨ Implementasi strategi pembelajaran.
¨ Penilaian dalam pembelajaran.
¨ Evaluasi program kurikulum.
Berorientasi pada komponen-komponen kurikulum berbasis masyarakat tersebut, maka langkah-langkah pengembangannya terdiri dari:
1) Penentuan tujuan pendidikan berdasarkan filsafat dan psikologi pendidikan juga berdasarkan spesifikasi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan siswa.
2) Analisis kebutuhan masyarakat sekitar, siswa dan mata ajar.
3) Spesifikasi tujuan kurikulum baik tujuan umum maupun tujuan khusus.
4) Pengorganisasian dan implementasi kurikulum dan struktur program.
5) Spesifikasi tujuan pengajaran termasuk TPU dan TPK.
6) Seleksi strategi pembelajaran meliputi kegiatan, model, dan metode pembelajaran.
7) Seleksi awal teknik evaluasi.
8) Seleksi final teknik evaluasi (langkah ini dilakukan setelah langkah 5).
9) Implementasi strategi pembelajaran secara aktual.
10) Evaluasi pengajaran untuk menilai keberhasilan siswa dan efektivitas pembelajaran dan perbaikan evaluasi.
11) Evaluasi program kurikulum.[23]
Melihat beberapa keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa inovasi kurikulum berbasis masyarakat adalah sebuah sistem kurikulum yang diatur, yang orientasinya adalah kebutuhan masyarakat di era-global ini yang semakin meningkat dan berubah-ubah. Dengan adanya bentukan kurikulum berbasis masyarakat ini, diharapkan akan mampu menjawab semua kebutuhan itu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Inovasi Kurikulum adalah suatu pembaharuan atau gagasan yang diharapkan membawa dampak terhadap kurikulum itu sendiri. Kurikulum hanyalah alat atau instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan. Kurikulum bukan sebagai tujuan akhir. Seiring dengan perubahan masyarakat dan nilai-nilai budaya, serta perubahan kondisi dan perkembangan peserta didik, maka kurikulum juga mengalami perubahan. Perubahan / inovasi tersebut
Makna yang terkandung dan tersirat dalam KBK terdiri dua hal, yaitu: pertama KBK mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua KBK memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing.
prinsip dalam pengembangan KBK, yaitu:
e. Kesamaan memperoleh kesempatan
f. Berpusat pada anak
g. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
h. Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
Kemudian, Inovasi kurikulum berbasis masyarakat adalah sebuah sistem kurikulum yang diatur, yang orientasinya adalah kebutuhan masyarakat di era-global ini
B. Saran
Demi khasanah keilmuan, dan kesempurnaan tulisan ini, kritikan, saran dan masukan dari saudara/i sangat dibutuhkan, buat kebaikan pemahaman kita di hari yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Ali. Muhammad, 2009. pengembangan Kurikulum disekolah. Bandung : sinar Baru algesindo.
Darajat. Zakiyah dkk, 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara.
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hamalik. Oemar, 2013.Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi aksara,
Hamid. Farida, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya: Penerbit Apollo.
Isjoni, 2006. Pendidikan Sebagai Invstasi Masa Depan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Kemendiknas, Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas. 2012. Bandung : Citra Umbara.
Nata. Abuddin, 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Poerwadarminta. W.J.S., 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: balai
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. 2012. Jakarta: Kalam Mulia.
Sanjaya. Wina, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Surya. Muhammad, 2004. Bunga Rampai Guru dan Pendidikan. Jakarta : Balai Putaka.



2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. gan bolehkah saya meng kopi ini, untuk menambah wawasan saya?

    BalasHapus