Minggu, 21 Agustus 2016

TAFSIR AYAT TENTANG ALLAH SW


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan bahwa janji Allah pasti terlaksana. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan Bangsa Romawi atas Bangsa Persia yang dijanjikan Allah, setelah sebelumnya mereka dikalahkan oleh seterunya itu. Diterangkan pula keingkaran orang-orang musyrikMekkah terhadap adanya hari akhirat.Pada ayat berikut ini, Allah memerintahkan agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kebesaranNYA, sebagai bukti adanya Allah dan hari kebangkitan serta kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang diutusNYA.Tanda-tanda itu dapat dilihat
pada kejadian langit dan bumi, kejadian diri sendiri, dsb.Kemudian mereka diperintahkan pula memperhatikan peninggalan umat dahulu yang lebih kuat dan perkasa dari mereka serta telah memakmurkan dan mengolah tanah lebih banyak dari yang mereka kerjakan.Akan tetapi semuanya hancur dan tidak ada satupun di antara mereka yang sanggup mengelakkan diri dari malapetaka yang dilimpahkan kepada mereka.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah terjemahan suratAr-Rum ayat 8?
2.      Bagaimanakah pengertian secara umum suratAr-Rum ayat 8?
3.      Bagaimanakah analisis suratAr-Rum ayat 8?
4.      Bagaimana Penafsiran Surah Yunus ayat 5?
C.    Tujuan Penulisan
1.       Untuk mengetahui terjemahan surat Ar-Rum ayat 8
2.       Memahami pengertian sevara umum suratAr-Rum ayat 8.
3.       Memahami analisis suratAr-rum ayat 8.
4.       Penafsiran Surah Yunus ayat 5



BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR AYAT TENTANG ALLAH SWT
A.    Pencipta Alam Dengan Haq (Ar-Rum 30 : 8)
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨
Artinya: Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.

1.      Pengertian Secara Umum
                  Dan apakah orang yang tidak percaya dengan adanya hari berbangkit dari kalangan kaummu tidak memikirkan tentang Allah yang menciptakan mereka, sedangkan mereka sebelum itu bukan apa-apa, kemudian mengantarkan mereka melalui beberapa fase dan keadaan sehingga jadilah mereka manusia yang sempurna bentuk dan akalnya. Maka karena itu mereka seharusnya mengetahui, bahwa Tuhan yang telah mengerjakan semua itu mampu mengembalikan mereka sesudah mereka mati untuk menjadi makhluk yang baru.Setelah itu Dia akan memberikan pembalasanNya yang baik bagi siapa yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang buruk kepada siapa yang telah berbuat keburukan di antara mereka. Dia sekali-kali tidak akan berbuat aniaya barang sedikit pun yang karenanya Dia menghukum seseorang tanpa dosa. Dan Dia tidak akan menghambat hukum seseorang dari mereka akan pahala amalnya. Karena Dia adalah Tuhan yang Maha Adil dan selamanya tidak pernah zalim.
Tidak sekali-kali Dia menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan adil dan untuk menegakkan perkara yang haq hingga waktu yang telah ditentukan (hari kiamat). Maka apabila waktu yang ditentukan itu telah tiba saatnya, Dia melenyapkan semua itu. Lalu Dia mengganti bumi ini dengan bumi yang lain dan pada saat itu semua makhluk dihadapkan kepadanya untuk menjalani hisab.
Kemudian Allah SWT menyebutkan, bahwa kebanyakan manusia lupa terhadap hari akhirat dan hal-hal yang terjadi di dalamnya, yaitu menyangkut masalah hisab dan pembalasan. Untuk itu Dia berfirman:
Artinya: Dan sesungguhnya kebanyakan manusia ingkar kepada hari pertemuan mereka dengan Tuhan mereka, karena mereka tidak akan memikirkan tentang kejadian diri mereka sendiri. Seandainya mereka memikirkan tentang kejadian diri mereka dan mempelajari keajaiban-keajaibannya, niscaya mereka yakin dan percaya kepada hari pertemuan dengan Tuhannya dan mereka percaya bahwa sesudah mereka mati, mereka pasti kembali kepadanya.[1]

2.      Analisis Surat Ar-Rum Ayat 8
Ayat ini ditujukan kepada kaum musyrikin[2]. Dan merupakan ancaman kepada mereka dengan mengajukan pertanyaan yang mengandung kecaman dan keheranan atas sikap mereka. Seakan-akan ayat di atas menyatakan: sungguh ajaib keadaan kaum musyrikin itu. Apakah mata dan kalbu mereka telah demikian lemah dan bejat sehingga tidak melihat bukti-bukti kebesaran Allah yang terbentang demikian jelas di alam raya. Dan apakah mereka tidak memikirkan tentang kejadian dan keadaan diri mereka, dari mana asalnya dan ke mana kesudahannya? Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi dan demikian pula apa yang ada di antara keduanya, yaitu semua makhluk di dalam wujud ini termasuk manusia, melainkan dengan tujuan yang Haq dan batas waktu yang akan berakhir yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia dan tidak ada juga yang kekal di alam raya ini. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia yaitu yang tidak beriman menyangkut pertemuan dengan Tuhannya benar-benar kafir yaitu ingkar, kendati keniscayaannya sangat jelas.
Kata ( في انفسهم) fi anfusihim dapat dipahami berkedudukan sebagai objek terhadap kata (يتفكروا) yatafakkaru/berfikir, sehingga ayat di atas bermakna apakah mereka tidak berfikir tentang diri mereka. misalnya, dari mana mereka datang dan ke mana mereka akan dibawa oleh pergantian malam dan siang? Suatu ketika pernah mereka tidak berada di pentas bumi ini, lalu wujud, ini pasti ada yang mewujudkan mereka.Apakah mereka tidak berfikir tentang anatomi tubuh serta jiwa dan pikiran mereka yang demikian serasi, atau berfikir tentang masa tua dan akhir perjalanan hidup mereka, dan lain sebagainya, karena sungguh banyak yang dapat dipikirkan manusia tentang dirinya.Hingga kini masih terdapat sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh para ahli tentang manusia yang belum mendapat jawaban memuaskan.Sungguh hingga kini manusia masih merupakan “makhluk yang tak dikenal”.Setelah kecaman itu, barulah ayat di atas melanjutkan dengan menyebut tujuan penciptaan langit dan bumi, yakni bahwa itu bukan permainan atau sia-sia tetapi untuk tujuan yang benar. Pendapat ini menjadikan ayat di atas serupa dengan firmanNya.
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada diri kamu sendiri.Maka kamu tiada memperhatikan?”
Lanjutan ayat yang ditafsirkan ini yang menyatakan (ماخلق السموات والارض) sebagai pengganti (substitute) atau dalam kaidah Bahasa Arab disebut badal isytimal dari kata (انفسهم). Seakan-akan ayat tersebut menyatakan “apakah kamu tidak memikirkan diri kamu? Sesungguhnya pada diri kamu ada petunjuk yang mengantar pada pembuktian bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi tanpa tujuan yang benar.”QS. Adz-Dzariyat (50) : 20-21). Ini, karena diri setiap insan merupakan bagian dari penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya.
Dapat juga kata (فى) pada firmanNya (فى انفسهم) dipahami dalam arti wadah bagi perintah berfikir.Ini sebagai isyarat bahwa perintah berfikir itu hendaknya dilakukan dengan penuh kesungguhan dan kekosongan wadah pikiran itu dari segala macam yang dapat mengurangi kesungguhannya. Seorang yang disibukkan oleh sesuatu - misalnya peristiwa tertentu atau tenggelam dalam kesibukan duniawi - maka ia tidak dapat berkonsentrasi dalam berfikir. Bila ia ingin sukses mencapai kesimpulan yang benar, maka ia perlu mengosongkan wadah jiwanya yang merupakan alat dan wadah pikiran itu. Penganut paham ini menggarisbawahi makna tersebut atas dasar bahwa berfikir tidak dapat terlaksana tanpa melibatkan nafs/diri manusia.Jika makna ini anda terima, maka yang dipikirkan itu penciptaan Allah terhadap langit dan bumi yang mengantar kepada kesimpulan bahwa penciptaan itu tidak mungkin tanpa tujuan.
Penciptaan langit dan bumi dengan haq, berarti ia tidak diciptakan secara sia-sia atau tanpa tujuan. Proses penciptaan bukannyaakan berlanjut tanpa henti. Kini ada yang mati dan ada yang hidup.Tapi pasti ada tujuan dari kehidupan dan kematian itu. Tujuan itu akan dicapai kelak setelah tibanya Ajalin musamma[3]. Dengan demikian ayat di atas serupa dengan firmanNya:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” QS. Al-Mukminun (23) : 115.
Ibnu Asyur menulis bahwa yang dimaksud dengan al-haq pada ayat di atas adalah “apa yang mestinya menjadi hikmah dan tujuan penciptaan langit dan bumi”. Yang haq bagi sesuatu adalah apa yang mestinya dilakukan guna mencapai kesempurnaan substansinya. Memperhatikan alam raya dan diri manusia mengantar kepada keyakinan tentang keesaan Allah serta keniscayaan hari kebangkitan.Ini karena penciptaan serta sistem kerja alam raya tidak dapat terbayangkan terjadi apalagi dengan demikian hebat dan serasi tanpa wujudnya Pencipta atau penciptanya berbilang. Di sisi lain manusia adalah satu-satunya makhluk Allah (yang masuk dalam jangkauan pemikiran) tentang cirinya yang sungguh berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Binatang misalnya, sejak dahulu hingga kini - sepanjang pengamatan serta informasi - tidak dapat melampaui batas-batas yang telah dicapainya selama ini dan sejak dahulu. Adapun manusia, maka ia mengalami perkembangan dan kemajuan.
Apa yang dicapainya tahun lalu lebih baik daripada apa yang dicapainya tahun sebelumnya, dan apa yang dicapainya tahun ini lebih maju daripada apa yang dicapainya tahun yang lalu.  Demikian seterusnya karena itu Allah SWT memerintahkan manusia untuk melakukan apa yang dikehendaki dan diinginkannya serta melakukan yang benar dan yang salah. Syari’at ditetapkan Allah  agar diikuti manusia dan ini disambut dengan baik oleh sebagian manusia. Dan diabaikan oleh sebagaian yang lain. Dengan penyambutan dan pengabaian yang bertingkat dan beraneka ragam.
Pengabaian itu mengakibatkan kerusakan dan dapat menjadi bencana untuk semua. Sehingga ini menuntun adanya tindakan untuk mencegah berlanjutnya pelanggaran itu tindakan tersebut bisa dengan memusnahkan yang durharka dan mencabut akar-akar kedurharkaan. Bisa juga dengan mengarahkan dan melatih mereka melakukan aktivitas yang sesuai dengan tuntunan ilahi, sehingga mereka terbawa kearah kebajikan atas kehendaknya sendiri disamping itu  ada hikmah lain yang dikehadaki  Allah SWT sehingga alam raya ini berlanjut ekstensinya hingga waktu tertentu tanpa dipunahkan.
Di sini maka tindakan pemunahan dan pencabutan akar-akar kedurharkaan tidak merupakan pilihannya. Dan sebagai gantinya dan sanksi bagi yang durharka seimbang dengan kedurharkaannya, tetapi itu tidak terjadi di dunia ini. Hal tersebut disampaikan oleh utusan-utusan-Nya kepada seluruh manusia. Nah, ketika itu ada yang takut dan mengharap ganjaran itu dari  ada juga yang tidak takut dan tidak mengharap.
Sebagai dampak dari alternatif penganti diatas maka tentu saja keberadaan manusia di pentas bumi harus terbatas agar masing-masing dapat memperoleh ganjaran dan sanksi yang telah ditetapkan oleh allah bahwa perolehannya tidak disini ,tetapi di alam sana .ini juga mengharuskan selesainya fungsi penciptaan langit dan bumi kita ini ., sehingga allah pun memusnahkannya , semua itu sesuai dengan ajal yang telah ditetapkan oleh allah. Dengan demikian, penciptaan langit dan bumi serta segala isinya, serta ketentuan ajal atau batas akhir dari wujud sesuatu merupakan keniscayaan serta sesuatu yang haq dan karena itu keduanya digaris bawahi oleh ayat di atas dengan firman-Nya “Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan batas waktu yang telah ditentukan”.Demikian bukti keesaan Allah dari keniscayaan hari kiamat, sangat jelas bagi yang ingin berfikir tentang dirinya dan alam raya sayang,”kebanyakan diantara manusia menyangkut pertemuan dengan tuhannya benar-benar kafir”. Demikian secara singkat penulis sadur dari uraian Thahir ibnu ‘Asyur[4] 
B.     Pencipta dan Pengatur Alam
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
1.      Tafsir Ayat Menurut Quraisy Shihab
Tuhan kalianlah yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan mengirimkan cahaya. Dialah yang menjadikan tempat-tempat beredarnya bulan, sehingga cahayanya berbeda-beda sesuai dengan tempat edarnya ini, dengan maksud agar kalian dapat mempergunakannya untuk memperkirakan waktu kalian dan dapat mengetahui bilangan tahun dan hisab(1). Allah tidak akan menciptakan itu semua kecuali dengan hikmah. Dialah yang menjelaskan bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya di dalam kitab suci-Nya, agar kalian merenunginya dengan akal kalian dan memenuhi tuntutan ilmu pengetahuan. (1) Matahari adalah benda langit yang menyala dan memancarkan sinar dari dirinya sendiri serta sebagai sumber kekuatan bagi bumi, seperti sinar dan panasnya. Sedangkan bulan tidak memancarkan sinar dari dirinya sendiri, tetapi memantulkan atau mengembalikan sinar matahari yang jatuh di permukaannya, sehingga terlihat seolah tampak bercahaya. Tempat-tempat beredarnya bulan tidak sama jika dilihat dari bumi dan matahari. Hal inilah yang menghasilkan bentuk-bentuk bulan. Dari sini dimungkinkan untuk menentukan bulan-bulan kamariah, yaitu tanda-tanda angkasa yang jelas untuk menentukan bulan. Dalam mengelilingi bumi, bulan memakan waktu selama 29 hari, 12 jam, 44 menit, 2,8 persepuluh detik. [5]

2.      Tafsir Ayat Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuty
(Dialah yang menjadikan matahari bersinar) mempunyai sinar (dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi bulan) dalam perjalanannya (manzilah-manzilah) selama dua puluh delapan malam untuk setiap bulan, setiap malam daripada dua puluh delapan malam itu memperoleh suatu manzilah, kemudian tidak tampak selama dua malam, jika jumlah hari bulan yang bersangkutan ada tiga puluh hari. Atau tidak tampak selama satu malam jika ternyata jumlah hari bulan yang bersangkutan ada dua puluh sembilan hari (supaya kalian mengetahui) melalui hal tersebut (bilangan tahun dan perhitungan waktu, Allah tidak menciptakan yang demikian itu) hal-hal yang telah disebutkan itu (melainkan dengan hak) bukannya main-main, Maha Suci Allah dari perbuatan tersebut (Dia menjelaskan) dapat dibaca yufashshilu dan nufashshilu, artinya Dia menerangkan atau Kami menerangkan (tanda-tanda kepada orang-orang yang mengetahui) yakni orang-orang yang mau berpikir.[6]


 


DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan As-Suyuthi, Imam Jalaluddin. 2009. Terjemah Tafsir Jalalin. Bandung. Sinar Baru Algesindo.
Kementerian Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta Lantera Abadi
Kementerian Agama RI. 2010. Terjemahan Tafsir Perkata. Bandung : Cv. Insan Kamil.
Sihab, M. Quraish, 2003. Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lantera Hati.





0 komentar:

Posting Komentar