Sabtu, 23 Mei 2015

PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan suatu hal yang penuh teka-teki dan pertanyaan karena bayi terlihat bagai makhluk yag perilaku umumnya tampak tidak terorgaisasi, ia akan menangis ketika merasa tidak nyaman dan tidak aman. Serta hanya terdiam saja ketika sebaliknya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya sebenarnya hal apa saja yang bias ia lakukan apakah dengan terdiamnya serta kebiasaanya yang selalu tidur hingga 16-17 jam per hari bayi juga bias melihat, mendengar dan merasakan  rangsangan dari sekitarnya.
Sang ibu biasanya memliki permasalahan komunikasi degan bayinya. Ibu ingin  memenuhi kenyamana dan keiginan bayi sepenuhnya namun kadang kita tidak tau apa maksud dari tangisan bayi. Dalam makalah ini akan membahas mengenai bagaimana sebenarnya pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut. Sehingga kita dapat memahami bagaimana dunia sang bayi tersebut dimana hal tersebut akan mendorong perkembangan dan pertumbuhan bayi secara optimal.


B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rmusan Masalah
a.      Bagaimana Ciri-ciri bayi?
b.      Seperti apa Proses Kelahiran dan Tangis Pertama Bayi?
c.       Bagaimana Perkembangan Motorik, Bahasa, dan Emosi?
2.      Batasan  Masalah
Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, dapat disimpulkan bahwa batasan masalahnya adalah sebagai berikut:
a.      Ciri-ciri bayi
b.      Proses Kelahiran dan Tangis Pertama Bayi
c.       Perkembangan Motorik, Bahasa, dan Emosi
C.     Tujuan Penulisan
Dari latar belakang, rumusa, dan batasan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Agar memperoleh pengetahuan tentang ciri-ciri dan berbagai berntuk perkembangannya pada masa bayi
2.      Untuk mengembankan wawasan tentang psikologi pendidikan, sesuai konsep kelahiran dan masa kecil
3.      Untuk melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan, yang dibimbing oleh Ibunda Dra. Murni W.



BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN BAYI
A.     Ciri-ciri Bayi
Pada saat dilahirkan panjang rata-rata bayi adalah 20 inchi atau 50 cm dengan berat badan 3,4 kg. dibandingkan dengan ukuran tubuh orang dewasa, panjang lebih dekat dari beratnya : panjang bayi yang 20 inci menunjukkan lebih dari seperempat  tinggi orang dewasa ,sedangkan 3,4 kg beratnya menunjukkan hanya bagian kecil dari berat badan orang dewasa (seifert & hoffnung, 1994).[1]
Sedangkan  Bayi yang baru lahir kehilangan 5-7% berat tubuh meraka, segera setelah bayi menyesuaikan diri dangan mengisap, menelan dan mencerna mereka bertumbuh cepat dan memperoleh berat kira-kira 5-6 ons per minggunya selama bulan pertama pada bulan ke empat berat badan mereka naik mencapai hampir tiga kali lipat dari berat mereka ketika hari pertama kelahiran.

B.     Proses Kelahiran dan Tangis Pertama Bayi
1.      Proses Kelahiran
Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Child Development menjelaskan bahwa ada lima tipe atau model kelahiran seorang bayi yaitu :
a.       Natural or Spontaneous Birth
Yakni kelahiran bayi secara spontan atau biasa disebut dengan kelahiran bayi secara alami ”natural”. Sebab prosesnya tanpa adanya pertolongan atau obat perangsang bagi ibunya. Tipe kelahiran ini dapat berjalan karena posisi dan ukuran bayi (fatus) serta ukuran rahim (uterus) ibu itu memungkinkan dapat muncul kepalanya dahulu, kemudian leher, kemudian memperlihatkan badan, berjalan secara perlahan melalui seluruh kelahiran, selanjutnya dalam waktu yang sama tampak tangan dan terakhir kedua kakinya.
b.      Instrument birth
Yaitu kelahiran bayi dengan alat-alat. Ini terjadi jika bayi tampak terlalu besar dari (saluran kelahiran) badan ibu, atau jika karena kelahiran secara normal tidak mungkin, maka manurut ilmu bedah terpaksa harus menggunakan alat untuk menolong bayi.
c.       Breech Birth
Kelahiran ini biasanya disebut dengan kelahiran ”sungsang”, yakni yang tampak dari bayi adalah pantatnya dulu, dan diikuti dengan kakinya, kedua tangan serta terakhir kepala. Dan jika posisi bayi tidak dapat berubah sebelum proses kelahiran dimulai, maka dalam hal ini  harus menggunakan alat untuk menolong bayi itu.
d.      Transverse-Presentation Birth
Yakni kelahiran dikarenakan keberadaan bayi melintang pada rahim ibu. Inipun jika posisi bayi tidak dapat berubah sebelum proses kelahiran dimulai, maka penggunaan alat untuk menolong kelahiran bayi terpaksa harus dilakukan.[2]
e.       Caesarean-Section Birth
Yaitu kelahiran dengan pembedahan. Hal ini jika kondisi bayi badannya terlalu besar untuk melewati atau menembus saluran kelahiran dan terlalu lama serta sult untuk diupayakan. Maka sekarang ini dengan menggunakan alat untuk melahirkan bayi secara pembedahan, bayi secara pembedahan, yakni dengan membelah dinding rahim  ibu.

f.        Bayi prematur (bayi kurang umur atau kurang matang).
Yaitu kelahiran anak yang selamat tetapi belum waktunya lahir atau belum mencapai periode kandungan secara penuh. World Health Organization (WHO) memberikan standar bayi prematur, jika berat badan bayi waktu lahir kurang dari 37 minggu. Jika terjadi bayi banyak butuh pertolongan, perawatan harus teliti. Biasanya harus dimasukkan ke inkubator (semacam mesin pengeram) agar memperoleh kehangatan seperti yang diperlukan tubuhnya.
Teori kedokteran menyebutkan bahwa kelahiran bayi prematur atau abortus spontan (keguguran tak disengaja) itu antara lain disebabkan oleh :
ü  Gangguan pada supply hormonal
ü  Ketidakseimbangan endoktrin.
ü  Definisi atau kerusakan ovarium (kandung telur)
ü  Gangguan thyroid pada kelenjar gondok, hypophyse (sambungan otak) serta gangguan hormon-hormon lainnya.
ü  Keempat faktor emosional penyebab itu diperhebat dan diperkuat oleh faktor emosional dan faktor psikis (faktor psikogenik) dari ibu yang sedang hamil. Ini biasanya berpangkal pada kondisi wanita hamul tersebut.

2.      Tangis Pertama Bayi
Beberapa pendapat para ahli tentang tangisan pertama bagi bayi yang baru lahir itu, antara lain :
a.      Pendapat Sigmund Freud
Bapak Psikoanalisa dari Australia ini berpendapat bahwa tangis pertama itu merupakan pernyataan adanya keinginan untuk kembali ke alam sebelumnya (rahim ibu). Jadi ada keinginan untuk ”regresi” menurut si bayi dalam kandungan ibu itu serba enak, nyaman, bayi tidak pernah merasa dingin sebab suhu terakomodasi oleh suhu badan ibu, bayi tidak perlu mengunyah makanan, dan lain-lain.[3]
Maka setelah ia lahir ke dunia, mengalami perbedaan situasi, iklim dan cuaca yang jauh berbeda, bayi mulai merasa kedinginan atau terlalu panas, terlalu bising, tidak nyaman lagi. Akibattnya sang bayi protes ingin kembali ke dunia sebelumnya.
b.      O. Rank
Sebagai pengikut setia Freud dalam bukunya Des Tranmander Gaburt mengemukakan bahwa kelahiran itu merupakan trauma, merupakan penghayatan yang dramatis. Sehingga tangisan atau jeritan pertama bayi menunjukkan adanya kecemasan yang dialami, karena anak telah terlempar dari tempat yang terlindung ke dalam tempat yang tidak terlindung sama sekali. Bagi anak, kecemasan pertama ini paling hebat dan sangat berarti dibanding kecemasan-kecemasan berikutnya. 
c.       Immanuel Kant
Ilmuwan Jerman ini meninjau dari segi filsafat, bahwa tangis pertama bayi adalah merupakan tanda protes kejiwaan terhadap belenggu kejasmanian yang akan dideritanya di dunia. Selanjutnya ia mengatakan bahwa jiwa manusia itu lebih bernilai daripada jasmaninya atau materi pada umumnya. Oleh karena itu bayi diprotes akan gejala pengkaitan dirinya dengan materi yang dianggap membelenggunya.

d.      Pendapat dari Tinjauan Biologis
Bahwa tangis pertama bayi merupakan pertanda mulai berfungsinya jantung, paru-paru, dan organ-organ tubuh lainnya. Hal ini menunjukkan adanya tanda kehiduapan seseorang, maka jika bayi lahir tidak menangis, perlu cepat-cepat diusahakan penanggulangan antara lain dengan memasukkan oksigen ke dalam paru-paru sebagai pancingan pernafasan, atau cara tradisional dengan dipukul pelan-pelan agar organ tubuh bergerak, serta cara-cara medis lainnya. Jika gagal penanggulangan tersebut berarrti bayi telah meninggal dunia.[4]
e.      Sis Heyster
Salah seorang psikolog Belanda ini mengungkapkan bahwa tangis bayi yang pertama itu sebagai tanda adanya kesadaran jiwa pada seorang anak, yang dimulai sejak lahir. Dengan adanya kesadaran itu, maka fungsi-fungsi kejiwaannya telah mulai bekerja sebagaimana mestinya.
Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan tersebut kiranya dapat dipilih, pendapat mana yang telah mengada-ada, dibuat-buat, sesuai dengan teori-teori ilmu jiwa, atau dapat diambil kesimpulan yang sesuai dengan tinjauan ilmu jiwa. Namun pendapat Sis Heyster itu lebih dapat dijadikan dasar tinjauan pembicaraan tentang tangis bayi yang dapat diterima .

C.     Perkembangan Motorik, Bahasa, dan Emosi
1.      perkembangan keterampilan motorik
Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh organ otak. Otak lah yang mensetir setiap gerakan yang dilakukan anak.Semakin matangnya perkembangan system syaraf otak yang mengatur otot m,emungkinkan berkembangnya kompetensi atau kemampuan motorik anak. Perkembangan motorik anak dibagi menjadi dua:
a.       Keterampilan motorik kasar meliputi kegiatan otot-otot besar seperti menggerakkan lengan dan berjalan.
b.      Keterampilan motorik halus atau keterampilan manipulasi meliputi gerakan-gerakan menyesuaikan secara lebih halus, seperti ketangakasan jari. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.[5] Teori tersebut pun menjelaskan bahwa ketika bayi di motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat menciptakan kemampuan motorik yang baru, kemampuan baru tersebut merupakan hasil dari banyak factor, yaitu perkembangan system syaraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, keinginan anak yang memotivasinya untuk bergerak dan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan.  Selain berkaitan erat dengan fisik dan intelektual anak, kemampuan motorik pun berhubungan dengan aspek psikologis anak.
2.      perkembangan bahasa
Semua manusia yang normal dapat menguasai bahasa, sebab sejak lahir manusia telah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya.hal ini terlihat bahwa manusia tidak memerlukan banyak usaha untuk mampu berbicara.
kemampuan dan kesiapan belajar bahasa manusia ini segera mengalami perkembangan setelah kelahirannya. bahkan menurut Havighurst (1984), kemampuan menguasai bahasa dalam arti belajar membuat suara-suara yang berarti berhubungan dengan orang lain melalui penggunaan suara-suara itu.[6]
perkembangan psikososial berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi serta perubahan bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. sebagimana telah dijelaskan diatas, masa bayi adalah masa dimana anak-anak mulai berjalan, berpikir, berbicara dan merasakan sesuatu.


3.      Perkembangan Emosi
Emosi yaitu respon yang timbul dari stimulus yang menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis disertai dengan perasaan kuat. Bayi mengekspresikan sebagian emosi jauh lebih awal dibandingkan dengan beberapa emosi lain, lalu mengekspresikan dengan rinci dua perilaku ekspresif emosional yang penting. Yaitu menangis dan tersenyum.
Untuk menentukan apakah bayi benar-benar mengekspresikan suatu emosi tertentu, kita memerlukan beberapa system untuk mengukur emosi. Menurut Carroll Izard (1982) mengembangkan suatu sistem semacam itu, Maximally Discriminative Facial Movement Coding Symtem ( Sistem Koding Gerakan Wajah Diskriminatif Maksimum) disingkat “MAX” ialah system pengkodean ekspresi wajah bayi yang berkaitan dengan emosi yang dikembangkan oleh Izard. Dengan menggunakan MAX, pengkode memperhatikan rekaman gerakan lambat reaksi wajah bayi terhadap rangsangan.
Menurut Chaplin (2002), otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.  Menurut Erikson,. Pada tahap ini, bayi tidak hanya dapat berjalan, tetapi mereka juga dapat memanjat, membuka dan menutup , menjatukan, menolak dan menarik, memegang otonomi atau kemandirian merupakan tahap ke dua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorikdan melepaskan. Bayi merasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Selanjtnya mereka juga dapat belajar mengendalikan otot mereka dan dorongan keinginan diri mereka sendiri.[7]
Dengan demikian, setelah memperoleh  kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka.  Pada tahap ini bila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat berdiri di atas dua kaki mereka sendiri, sambil melatih kemampuan-kemampuan mereka, maka anak akan mampu mengembangkan pengendalian atas otot, dorongan,  lingkungan dan diri sendiri (otonom). Sebaliknya, jika orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau terlalu membatasi hak untuk menyelidiki lingkungannya, maka anak akan mengembangkan suatu rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan tentang kemampuan mereka untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan dunia mereka.
Erikson yakin tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu memiliki implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selama remaja. Perkembangan otonomi selama tahun-tahun balita memberi  remaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri , yang dapat memiliki dan menentukan  masa depa mereka sendiri. Meskipun demikian menurut Santrock (1995), terlalu banyak otonomi sama bahayanya dengan terlalu sedikit otonomi. Pada tahap ini jika bayi mempercayai pengasuhnya, mereka akan menegaskan independensi dan menyadari kehendaknya sendiri. Jika bayi terlalu banyak dibatasi, mereka akan mengembangkan sikap malu dan ragu. Tahap ini berlangsung ketika bayi berusia sekitar 1-2 tahun.[8]



BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dalam proses kelahiran bayi, umumnya yang menjadi permasalahan adalah tentang gerakan si bayi itu sendiri saat menjelang kelahiran. Apakah bayi tersebut bersifat aktif (siap untuk lahir) ataukah bersifat pasif (cenderung dilahirkan). Dalam kondisi normal bayi bersifat aktif, sehingga ia siap untuk lahir, bukan dilahirkan. Dinyatakan demikian sebab posisi dan gerakan bayi di dalam rahim itu menentukan cara dan tipe kelahiran bayi tersebut.
Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Child Development menjelaskan bahwa ada lima tipe atau model kelahiran seorang bayi yaitu : Natural or Spontaneous Birth; Instrument birth; Breech Birth; Transverse-Presentation Birth; Caesarean-Section Birth; Bayi prematur.
Pada dasarnya dalam keadaan pertumbuhan yang biasa, pikiran berkembang secara berangsur-angsur, sampai anak mencapai umur delapan sampai dengan 12 tahun, ingatannya menjadi kuat sekali biasanya mereka suka menghafal banyak-banyak. Anak mengalami masa belajar. Pada masa belajar ini anak menambah pengetahuannya, menambah kemampuannya untuk mencapai kebiasaan yang baik.

B.     Saran
Penyusun mengakui bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang semestinya perlu ditambah dan diperbaiki. Uraian dan contoh yang diambil masih sangat kurang. Oleh sebab itu, segala masukan yang bersifat positif sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Harapan penyusun semoga inti dari permasalahan yang kita bahas ini dapat dipraktikkan di kehidupan sosial.



DAFTAR PUSTAKA
John, W. Santrock. LIFE-SPAN DEVELOPMENT (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga, 2002
Mar’at.Samsunuwiyati. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2005
Rohmah. Yuliani, Elfi. Psikologi Perkembangan,Yogyakarta : Teras, 2005
Wangilto. Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi. 2003
Zulkifli, Psikologi Perkembangan, Bandung, Remaja rosda karya , 1987
https://plus.google.com/105941357977697543986
https://plus.google.com/115536889942149769369


0 komentar:

Poskan Komentar