Sabtu, 23 Mei 2015

MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN


BAB I
PEDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Manusia adalah makhuk berkembang, atau seperti ungkapan Sayyid Nasr manusia itu adalah hewan berteknologi, berbgaia keunikanyang dimiliki manusia, sehingga perlu menjadi kajian khusus yang membahas hakikat manusia, seperti apa manusia, dan apa saja yang berkaitan dengan hal-hal kemanusiaan.
Ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah cabang ilmu yang terkait satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan. Masing-masing cabang ilmu pendidikan dibentuk oleh sebuah teori.
Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan sebuah bangsa. Oleh karena itu, pendidikan sangat penting untuk memajukan sebuah bangsa. Sebagai usaha untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan maka setiap pendidik harus mengetahui tentang pendidikan khususnya hakikat manusia dan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut maka seorang pendidik harus mengetahui tentang ilmu pendidikan.

Hampir semua orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dengan manusia. Pada akhir pembahasan ini diharapkan tercapai deskripsi tentang hakikat manusia dan pendidikan.

B.     Rummusan dan Batasan Masalah
1.      Bagaimana manusia dipandang dari sudut pandang pendidikan?
2.      Apa hakikat pendidikan?, dan
3.      Apa urgensi pendidikan bagi kehidupan manusia
C.     Tuhuan Penulisan
Dari latar belakang, rumusa, dan batasan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Agar memperoleh pengetahuan hakikat manusia dari sudut pandang ilmu pendidikan, bagaimana hakikat pendidikan serta apa saja urgens opendidikan bagi manusia.
2.      Untuk mengembankan wawasan tentang filsafat pendidikan, sesuai konsep kemanusiaan dan pendidikan
3.      Untuk melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan semester dua prodi S1.















BAB II
PEMBAHSAN
MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN
A.     Hakikat Manusia Dalam Pendidikan
Ilmu pendidikan itu selalu berhubungan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan tentang siapakah manusia biasanya termasuk dalam bidang filsafat, yaitu bersifat antropologi. Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep serta praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa yang melaksanakan pendidikan.
Nilai yang dijunjung tinggi itu dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingi dicapai melalui praktik pendidikan. Nilai-nilai ini tidak diperoleh hanya dari paktik dan pengalaman mendidik, tetapi secara normatif bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, dan pandangan hidup, bahkan juga dari keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang.
Dibanding dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah yang terlemah, sedangkan rohaninya atau akal budi dan kemauannya sangat kuat.[1] Manusia memang tidak bisa terbang seperti burung, tidak dapat berenang selincah ikan, dan tidak punya tenaga sekuat gajah.
Meski demikian manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya. Dengan demikian manusia bisa mengatasi kelemahannya tersebut.
Hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karateristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Adanya sifat hakikat tersebut memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya lebih tinggi daripada hewan. Wujud sifat hakikat manusia dengan maksud menjadi masukan dalam membanahi konsep pendidikan, yaitu:
1.      Kemampuan menyadari diri
2.      Kemampuan bereksistensi
3.      Pemilikan kata hati
4.      Moral
5.      Kemampuan bertanggung jawab
6.      Rasa kebebasan
7.      Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
8.      Kemampuan menghayati kebahagiaan[2]
Manusia tidak mampu menciptakan dirinya sendiri, beradanya manusia di dunia bukan pula sebagai hasil evolusi tanpa Pencipta sebagaimana diyakini penganut Evolusionisme, melainkan sebagai ciptaan Tuhan. Manusia berbeda dengan benda. Perbedaan itu antara lain dalam hal cara beradanya. Menurut Martin Hedegger, benda-benda di sebut sebagai “yang berada” (Seinde), dan bahwa benda-benda itu hanya “vorhanden”, artinya hanya terletak begitu saja di depan orang, tanpa ada hubungannya dengan orang itu, benda-benda itu baru berarti. Sedangkan manusia, ia berinteraksi di dunia di mana ia secara aktif “mengadakan” diriya, tetapi bukan dalam arti menciptakan dirinya sebagai mana Tuhan menciptakan manusia, melainkan manusia harus bertanggung jawab atas keberadaan dirinya, ia harus bertanggung jawab menjadi apa atau menjadi siapa nantinya.
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instingnya. Sedangkan manusia, hidup menggunakan akal pikiran yang dimilikinya dalam setiap berprilaku. Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, yang didapat dari lembaga formal maupun non formal. Pada dasarnya hakikat pendidikan sangatlah luas. Hakikat pendidikan bukanlah hanya sekedar pengertian serta definisi pendidikan semata. Didalam hakekat pendidikan banyak hal menarik untuk dipelajari contohnya saja seperti objek ilmu pendidikan dan macam-macam ilmu pendidikan. Hal-hal menarik inilah yang mendorong kami untuk mempelajari lebih dalam mengenai hakikat pendidikan diluar dari tugas yang telah ditentukan

B.     Hakikat Pendidikan
Pendidikan (Education) : Process Of Teaching, Training and Learning.[3] Rupert C. Lodge dalam Fhilosofi Of Education (1972: 23) menyatakan bahwa pendidikan dalam pengertian yang luas mnyangkut seluruh pengalaman.[4] Kemudian Marimba (1962: 15) mendefenisikan pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkmbangan jasmani dan ruhani si terdidik menuju terbentunya kepribadian yang utama.[5]
Carter V. Good,[6] the Education is the sistematized learning or intruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidanc; leargely replaced by the term Education.
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya pengembangan panca daya untuk mewujudkan hakikat manusia dalam bingkai dimensi kemanusiaan. Upaya pendidikan merupakan proses transformasi yang mengarah kepada terjadinya perubahan pada diri peserta didik.[7]
Pendidikan merupakan setiap proses di mana seorang memperoleh pengetahuan (Knowledge acquisition). Selain itu, ia dapat mengembangkan kemampuan/keterampilan sikap (Skills Depelopment) atau mengubah sikap (attitude change).[8]
Ada beberapa konsepsi dasar pendidikan yang akan dilaksanakan yaitu:
1.       Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup.
2.       Bahwa bertanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
3.       Pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang.[9]
Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global.
C.     Urgensi Pendidikan Bagi Manusia
Urgensi adalah keharusan yg mendesak; hal sangat penting,[10] berbicara tentang urgensi pendidikan bagi manusia artinya adalah berbicara kepentingan pendidikan itu bagi manusia.
Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru suatu bangsa yang tidak bodoh secara intelektual namun tetap memiliki ikatan tradisi mereka sendiri.
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu pendidikan di masyarakat, didisain mengikuti irama perubahan dan kebutuhan masyarakat.
Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Sebagaimana yang diungkapkan Daoed Joesoef tentang pentingnya pendidikan : “Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia” Dan tentulah dari pernyataan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan.
Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara”.[11]
Sementara di dalam al-Qur’an dengan sangat jelas Allah Swt berjanji akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan beriman: Yarfa’illahulladzina amanu walladzina utul ’ilma darajat” (QS. QS. Al-Mujadilah [58]: : 11).[12] Ayat ini menunjukkan bahwa proses memperoleh ilmu atau pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi. Di samping itu, ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah Swt. Ayat di atas adalah sebagian kecil dari contoh betapa agama Islam sangat memandang ilmu sebagai alat yang penting dalam kehidupan. Banyak sekali kata-kata atau perintah-perintah di dalam al-Qur’an yang menunjukkan agar manusia ini berilmu, berpikir, merenung dan sebagainya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan mutlak bagi umat manusia. Oleh karena itu, tidaklah sekedar transfer ilmu pengetahuan, tujuan pendidikan sesungguhnya menciptakan pribadi yang memiliki sikap dan kepribadian yang positif.[13]












BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
      Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu  peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.
      Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, danmelatih. Kegiatan tersebut kita laksanakan sebagai suatu usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai. Maka dalam pelaksanaanya, kegiatan tadi harus berjalan secara serempak dan terpadu, berkelanjutan, serta serasi dengan perkembangan anak didik serta lingkungan hidupnyadan berlangsung seumur hidup
B.     Saran
Penyusun mengakui bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang semestinya perlu ditambah dan diperbaiki. Uraian dan contoh yang diambil masih sangat kurang. Oleh sebab itu, segala masukan yang bersifat positif sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Harapan penyusun semoga inti dari permasalahan yang kita bahas ini dapat dipraktikkan di kehidupan sosial.





DAFTAR PUSTAKA
Aly. Abdullah dan Eny Rahma, 1998, Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara
Tirtaraharja. Umar dan  La Sulo, t.th, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Tafsir, Ahmad, 1999, Metodologi Pngajaran Agama Islam,Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
Marimba. Ahmad D. 1980, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif
Elfindri Dkk, 2011. Soft Skill untuk Pendidik. Baduose Media.
Susmini, 2010, Manajemen Pendidikan, (Kartasura : CV. Cahaya Pena,
Munib,Achmad, 2009Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang: UNNES Press
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka,
Kemendiknas, 2012, Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, (Bandung : Citra Umbara,
Depertemen agama, Qur’an dan Terjamahnya, (Surakarta: CV Al-Hanan)


1 komentar:

  1. manusia sedapat mungkin menggunakan potensi yg di berikan tuhan...

    BalasHapus