Sabtu, 23 Mei 2015

ANEKA PENDEKATAN DALAM STUDI AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-qur’an dan Hadits tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab mana kala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis
dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam memahami agama banyak pendekatan yang dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis, normative, antropologis, sosiologis, psikologis, historis dan pendekatan filosofis, serta pendekatan-pendekatan lainnya. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.

B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rmusan Maslaah
a.       Bagaimana pendekatan teologis ?
b.      Bagaimana pendekatan sosiologis ?
c.       Bagaimana pendekatan filosofis ?
d.      Bagaimana pendekatan antropologis ?
e.       Bagaimana pendekatan fenomenologis ?
f.        Bagaimana pendekatan psikologis?
2.      Batasan Masalah
a.       Pndekatan teologis ?
b.      Pendekatan sosiologis ?
c.       Pendekatan filosofis ?
d.      Pendekatan antropologis ?
e.       Pendekatan fenomenologis ?
f.        Pendekatan psikologis dalam ?
















BAB II
PEMBAHASAN
ANEKA PENDEKATAN DALAM STUDI AGAMA
A.     Pendekatan Teologis
Teologi dari segi etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu theologia. Yang terdiri dari kata theos yang berarti tuhan atau dewa, dan logos yang artinya ilmu. Sehingga teologi adalah pengetahuan ketuhanan . sedangkan pendekatan teologis adalah suatu pendekatan yang normatif dan subjective terhadap agama. Pada umumnya, pendekatan ini dilakukan dari dan oleh penganut agama dalam usahanya menyelidiki agama lain. Secara harfiah, pendekatan teologis normatif dalam memahami agama dapat diartikan sebagai upayamemahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dubandungkan dengan yang lainnya.[1]
Suatu pendekatang yang normatif dan sunjektif terhadap agama adalah pendekatan teologis. Pada umumnya, pendekatan ini dilakukan dari dan oleh penganut suatu agama dalam usahanya menyelidiki agama lain. Dengan demikian, pendekatan ini bisa juga disebut pendekatan atau metode tekstual, atau pendekatan kitabi maka ia selalu menampakkan sifatnya yang apologis dan dseduktif.[2]
Berkenan dengan pendekatan teologi tersebut, Amin Abdullah mengatakan bahwa pedekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini. Terlebih-lebih lagi, kenyataan demikian harus ditambahkan dengan doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas dari jaringan institusimatau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya.
Perbedaan dalam bentuk forma teologis yang erjadi diberbagi mazhab dan airan teologi keagamaan meruakan realitas dan telah menyerah, namun pluralitas dalam perbedaan tersebut seharusnya tidak membawa mereka pada sikap saling bermusuhan dan selalu mennjolkan segi-segi perbedaan masing-asing secara arogan, tetapi sebaliknya dicari persamaannya untuk menuju subtansi dan misi agama yag paling suci. Salah satunya adalah dengan mewuudkan rahmat bagi seluruh alam yang dilandasi pada perinsip keadilan, kemanusiaan, kebersamaan, kemitraan, saling menolong, saling mewujudkan kedamaian, dan seterusnya. Jika misi tersebut dapat dirasakan, fungsi agama bagi kehidupan manusia segera dapat dirasakan.[3]
Teologi adalah
B.     Pendekatan Sosiologis
Kata sosiologi pertama kali dipakai oleh Auguste Comte, seorang filsuf Prancis, tahun 1843. Sebagai suatu disiplin ilmu, sosiologi lahir sebagai bagian dari tradisi intelektual yang bertumpu pada kerangka pemikiran Eropa Barat dan Amerika. Sosiologi menurut Pitirim Sorokin adalah ilmu yang memepelajari: (a) hubungan dan pengaruh timbal balik antara beragam gejala sosial; (b) hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial; (c) ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.[4]
Ilmu sosial dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal ini dapat dimengerti karena banyak bidang kajian agama yang baru dipahami secara imporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosila. Pentingnya pendekatan sosial dalam agama sebagaimana disebutkan diatas, dapat dipahami, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya.
Maksud pendekatan ilmu sosial ini adalah implementasi ajaran Islam oleh manusia dalam kehidupannya. Pendekatan ini mencoba memahami keagamaan seseorang pada suatu masyarakat. Fenomena-fenomena keislaman yang bersifat lahir diteliti dengan menggunakan ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Pendekatan sosial ini seperti apa perilaku keagamaan seseorang didalam masyarakat apakah perilakunya singkron dengan ajaran agamanya atau tidak. Pendekatan ilmu sosial ini digunakan untuk memahami keberagamaan seseorang dalam suatu masyarakat.

C.     Pendekatan Filosofis
Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala yang ada, Berbicara tentang filsafat, berarti kita sedang membicarakan sesuatu yang sangat mendasar. Sebab, filsafat membahas tentang hakikat segala sesuatu. filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani philosophia yang merupakan kata majemuk dari dua kata, philo yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan.[5]  Kemudian, Filsafat merupakan hasil proses berfikir dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, menyeluruh, dan mendasar.[6] Filsafat dalam bahasa Arab diistilahkan dengnan Al-Hikmah bermakna mengetahui mengenai hakikat sesuatu secara bijaksana.[7]
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memenuhi ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat, atau inti dari ajarran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.[8] Pendekatan secara filosofis sebenarnya sudah banyak dilakukan para ahli.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah, tetapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun islam yang ke lima dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spritual yang terkandung di dalamnya.[9]
Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan, dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapatkan dari pengamalan agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam kelima dan berhenti sampai disitu saja. Tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik. Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya.
D.    Pendekatan Antropologi
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui ini pendekatan agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
Antropologi adalah sebuah ilmu yang didasarkan atas observasi gartisipasi yang luas tentang kebudayaan, menggunakan data yang terkumpul, dengan menetralkan nilai, analisa yang tenang (tidak memihak) menggunakan metode komgeratifi. Tugas utama antropologi, studi tentang manusia adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensil, dan karenanya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lainnya.
Sedangkan Humaniora atau Humaniteis adalah bidang-bidang studi yang berusaha menafsirkan makna kehidupan manusia dan berusaha menambah martabat kepada penghidupan dan eksitensis manusia menurut Elwood mendefinisikan ”Humaniora” sebagai seperangkat dari perilaku moral manusia terhadap sesamanya, beliau juga mengisyaratkan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan amung (unique) dalam ekosistem, namun sekaligus juga amat tergantung pada ekosistem itu dan ia sendiri bahkan merupakan bagian bidang-bidang yang termasuk humaniora meliputi agama, filsafat, sejarah, bahasa, sastra, dan lain-lain. Manfaat pendidikan humaniora adalah memberikan pengertian yang lebih mendalam mengenai segi manusiawi.
Jadi antara antropologi dan humaniora hubungannya sangat erat yang kesemuanya memberikan sumbangan kepada antropologi sebagai kajian umum mengenai manusia. Bagi para humanis bahan antropologis juga sangat penting. Dalam deskripsi biasa mengenai kebudayaan primitif, ahli etnografi tradisional biasanya merekam sebagai macam mite dan folktale, menguraikan artifak, musik dan bentuk-bentuk karya seni, barangkali juga menjadi subjek analisa bagi para humanis dengan menggunakan alat-alat konseptual mereka sendiri.



E.     Pendekatan Fenomenologis
Fenomenologi diartikan sebagai ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yg mendahului ilmu filsafat atau bagian dari filsafat.[10] Penyelidikan ilmiah terhadap fenomena agama ini dilakuka oleh berbagai disiplin ilmu. Meskipun membawa pokok pembicaraan yang sama, berbagai disiplin tersebut memeriksanya dari aspek-aspek khusus yang sesuai dengan jangkauan dan tujuannya.[11]
Untuk memahami paling fakta agama beserta pengungkapannya, fenomenologi berusaha menyelidikinya. Pendekatan atau metode yang paling dekat dan ada hubungannya dengan pendekatan feomenologi adalah pendekatan historis. Hal ini dikarenakan fenomeologis dan sejarah saling melengkapi. Fenomenologi tidak dapat berbuat tanpa etnologi, filologi, dan disiplin kesejarahan lainya. Sebaliknya fenomenologi memberikan disiplin kesejarahan untuk memberi arti keagamaan yang tidak bisa mereka pahami. Oleh sebab itu, memahami agama dalam kajian fenomenologi adlaah memahami agama dari sejarah; memahami sejarah dalam arti menurut dimensi keagamaanya.
F.      Pendekatan Psikologis
Psikologi berasal dari perkataan Yunani ”Psyche” yang artinya jiwa, dan ”Logos” yang artinya ilmu pengetahuan.[12] Psikologi menurut bahasa dirtikan sebagai “Ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada prilaku: ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa”.[13] Secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakang nya.[14] Kondisi psikologi adalah kondisi yang dapat diamati, dicatat dan diukur.
Dalam ajaran agama, banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Misalnya, sikap beriman dan bertaqwa kepada Allah, sebagai seorang yang saleh, orang yang berbuat baik, orang yang jujur, dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitang dengan agama.[15]
Dengan ilmu jiwa ini, selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami, dan diamalkan seseorag, juga digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedala jiwa seseorang sesuai dengantigkat usianya. Dengan ilmu ini, agama akan menemukan cara yang tepat untuk menanamkannya.
Dari uraian tersebut, kita melihat bahwa ternyata studi agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Dengan pendekatan itu, orang akan sampai pada agama. Seorang teolog, sosiolog, antropolog, sejarawan, ahli ilmu jiwa, dan budayawan akan sampai pada pemahaman agama yang benar. Di sini, kita melihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normatif belaka, melainkan dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari keadaan demikian, seeorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama.





BAB III
PENUTUP

A.     SIMPULAN
Dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya adalah upaya atau usaha untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah. Karena sumber pengetahuan pendekatan filosofis adalah rasio, maka untuk melakukan kajian dengan pendekatan ini akal mempunyai peranan yang sangat signifikan.
Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan adanya pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Dalam konteks penelitian, pendekatan-pendekatan (approaches) ini tentu saja mengandung arti satuan dari teori, metode, dan teknik penelitian. Terdapat banyak pendekatan yang digunakan dalam memahami agama. Diantaranya adalah pendekatan teologis, normative, antropologis, sosiologis, psikologis, histories, dan pendekatan filosofis, serta pendekatan-pendekatan lainnya. Adapun pendekatan yang dimaksud disini (bukan dalam konteks penelitian), adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam satu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahman mendasarkan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian filosofi, atau penelitian legalistik.
B.     SARAN
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Banyak kekurangan disana-sini untuk itu mohon kiranya para pembaca sekalian mau memberikaan masukan kritik dan saran guna perbaikan dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Adeng Mukhtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, (bandung: Pustaka setia, 2005), h. 73
Ahmadi, Abu. 2007, Psikologi Sosial Jakarta : PT Rineka Cipta. http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/pendekatan-dalam-studi-islam.html
Anwar, Rosihon, at. all, 2009, Pengantar studi Islam, Bandung : Pustaka Setia.
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Haris. Abd. dan Kiva Aha Putra, 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Amzah.
Mahmud, 2012, Sosiologi Pendidikan, Bandung; Pustaka Setia,
Poerwantana dkk, 1988, Seluk Beluk Filsafat Islam. Bandung : Rosda Karya,
Zar. Surojuddin, 2012. Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.


[1] http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/pendekatan-dalam-studi-islam.html
[2] Zakiyah Drajat dalam Rosihon Anwar, at. all, Pengantar studi Islam,(Bandung : Pustaka Setia, 2009), h. 73
[3] Ibid. h. 78
[4] Mahmud, Sosiologi Pendidikan, (Bandung; Pustaka Setia, 2012) h. 11
[5] Poerwantana dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam. (Bandung : Rosda Karya, 1988), h. 1
[6] Sirojuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2012), h.  2
[7] Abd. Haris dan Kiva Aha Putra, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Amzah, 2012), h.3
[8] Rosihon Anwar, at.all.Op.Cit. h. 87
[9] Rosihon Anwar, at.all.Ibid. h. 89
[10] Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2001), h.
[11] Adeng Mukhtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, (bandung: Pustaka setia, 2005), h. 73
[12] Abu Ahmadi. Psikologi Sosial.( Jakarta : PT Rineka Cipta, 2007). h. 1
[13] Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2001), Hlm
[14] Abu Ahmadi. Op. Cit
[15] Rosihon Anwar 94

1 komentar: