Kamis, 30 Oktober 2014

MITOS, Kepuasan dan Ketidakpuasan Terhadapnya



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Manusia memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan. Namun, manusia memiliki kelebihan, yaitu kemampuan berpikir, dengan kata lain curiousity-nya tidak idle tidak tetap sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang, atau dengan kata lain manusia memiliki kemampuan berpikir. Ia bertanya terus tentang apa?, bagaiman?, dan mengapa begitu?.
Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru menjadi pengetahuannya yang lebih
baru. Hal demikian berabad-abad lamanya, sehingga terjadi akumulasi pengetahuan. Rasa pengen tahu manusia ternyata tidak cukup hanya sampai disitu, hangga pada akhirnya pada sebagian kondisi, manusia tidak mendapatkan jawaban tentang apa yang disaksikan dan dialaminya, hingga datang anggapan-anggapan yang direka-reka dijadikan sebagai keputusan dan kesepakantan bersama, hingga menjadi sebuah keyakinan yang akhirnya turun-temurun diyakini oleh manusia itu, jawaban tadi itu didapatkan bukan karena telah meneliti dan melihat penyebabnya lebih dahulu, meski pada saat itu reka-rekaan itu berlaku, itulah yang kita anggap sebagai mitos, dan mitos ini masih berkembang hinga pada saat kita sekarang ini.
Melihat kondisi di atas, lalu bagaimana kedudukan mitos di zaman perkembangan ilmu pengetahuan teknologi sekarang ini, apakah mitos-mitos lama masih mampu menjawab kebutuhan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, inilah yang akan dibahas dalam makalah ini, mengingat betapa pentingnya untuk merubah pola dan paradigma berpikir, dari berpikir sederhana hingga berpikir kompleks, dari sifatnya yang tidak ilmiah menjadi ilmiah, karena yang ilmiah itulah yang sebenarnya ilmu pengetahuan.


B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya dapat di deskripsikan sebagai berikut:
a.       Apa itu mitos?
b.      Apa saja manfaat mitos dalam kehidupan masyarakat?
c.       Bagaima kepuasan dan ketidak puasa terhadap mitos?
d.      Bagaimana mitos dalam pandanagn islam?
e.       Apa saja contoh mitos yang masih dianggap berlaku?
2.      Batasan Masalah
Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka batasan masalahnya dapat di rumuskan sebagai berikut:
a.       Pengertian mitos
b.      Manfaat mitos dalam kehidupan masyarakat
c.       Kepuasan terhadap mitos dan ketidak puasa terhadap mitos
d.      Mitos dalam Islam
e.       Contoh-contoh mitos yang dianggap masih berlaku
C.     Tujuan Penulisan
Dari beberapa batasan masalah di atas, maka setidaknya tulisan ini bertujuan untuk:
a.       Menyingkap bagaimana mitos menjawab kebutuhan ilmu pengetahuan dimasa lampau
b.      Bagaiman kepusan dan ketidak puasa manusia dalam menjawab segala kebutuhan manusia itu melalui mitos-mitos mereka.
c.       Mencari tahu bagaimana pendapat manusia-manusia sekarang terhadap mitos-mitos lama tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN
MITOS, KEPUASAN DAN KETIDAKPUASAN TERHADAPNYA.
A.     Pengertian
Mitos merupakan cerita suatu bangsa tentang dewa-dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentng asal-usul semesta alam, manusia, dan bngsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.[1] Farida Hamid[2] mengartikan Mitos dengan sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan primitif tentang kehidupan alam gaib, yang timbul dari usaha manusia yang tidak ilmiah dan tidak berdasarkan pada pengalaman yang nyata untuk menjelaskan dunia atau alam sekitarnya. Dalam bahasa Inggris tidak ditemukan secara pasti diistilahkan dengan apa, namun ada tiga opsi yang berkaitan dengan Mitos ini, yaitu: Pertama, Myth: story from ancient time ; something that many poeple blieve but the does not edist or is false[3]. Kedua, Fairy[4] : small imaginary creature with magucal power, Ketiga, Legend : Story from ancient Time that may or my not be true.[5]
Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya.[6]
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan atas dasar pengamatan maupun pengalamannya, manusia mereka-reka sendiri jawabannya. Sebagai contoh: “apakah pelangi itu?” karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari.[7] Pengetahuan-pengetahuan baru yang bermunculan, dan merupakan gabungan dari pengamatan pengalaman dan percayaan itu kita sebut dengan Mitos. Adapun yang cerita yang berdasarkan mitos ini disebut Legenda.[8] Jadi, dapat disimpulkan bahwa mitos adalah merupakan pendapat-pendapat manusia/masyarakat tentang suatu hal yang dianggap fenomena dan tidak terjawab melalui pendekatan ilmiah, lalu jawaban itu mereka reka-reka sendiri yang pada akhirnya berbeda dengan temuan ilmiah yang sesungguhnya, itulah Mitos.
A. Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metafisika. Mitologi ialah pengetahuan tentang mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.
Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan panca indera manusia serta keingintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
Tonggak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar di bidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya memantulkan sinar matahari, dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.
B.     Manfaat Mitos Dalam Masyarakat
Ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan sesuatu yang natural dalam peradaban manusia, hal ini disebabkan bahwa manusia mempunyai kesamaan dengan semua makhluk hidup dalam sifat kemakhlukannya, seperti perasaan, bergerak, makan, bertempat tinggal, dan lainnya. Namun manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya karena kemampuannya berpikir yang memberikan petunjuk kepadanya, mendapatkan mata pencarian, kerja sama antar sesamanya, berkumpul dalam rangka untuk bekerja sama.[9]
Atas dasar di ataslah manusia terus mengembangkan pikirannya untuk terus menjawab semua apa yang ia lihat dan alami, meski pada saat itu manusia belum mampu melkukan penelitian secara ilmiah dengan segala kewajaran yang ada yang bersipar rasional.
Masyarakat waktu itu dapat menerima mitos karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya; padahal hasrat ingin tahunya berkembang terus, maka mitos merupakan jawaban yang paling memuaskan pada masa itu.[10] Jadi, dapt disimpulkan bahwa mitos itu hanyalah jawaban kepercayaan masyarakat waktu itu setelah mereka gagal melakukan penelitian dan menemukan alasan rasional.
C.     Kepuasan dan Ketidakpuasan Terhadap Mitos
Manusia sebagai mahluk yang berpikir di bekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejela-gejala alam.dan inilah yg membeda kan manusia dengan hewan karna dibekali otak oleh Sang Pencipta,dan dengan pikiran manusia bisa mengendalikan semua apa yang hendak ia lakukan atau tidak ingin ia lakukan. 
Rata-rata alam pikiran manusia dapat berkembang tidak hanya didapatkan dari objek yang diamati melalui panca indera saja, tetapi seperti yang berhubungan dengan baik atau buruk, benar atau salah dan lain-lain nya.Dan mungkin karena teknologi juga yang semakin berkembang sesuai zamannya, sehingga sejalan dengan cara berfikir manusia yang memudahkan manusia untuk mencari informasi dan ilmu pengetahuan yang sangat banyak, sehingga membuat alam pikir manusia semakin berkembang dan berkembang lagi.
Manusia selalu berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk bisa menjawab pertanyaan dari rasa ingin tahunya, manusia sering mereka-reka sendiri jawabannya. Meski jawaban seperti ini kadang tidak logis, namun sering diterima masyarakat awam sebagai suatu kebenaran. Pengetahuan semacam ini disebut pseudo science, yaitu pengetahuan mirip sains tapi bukan sains.[11]
Cara memperoleh pengetahuan dengan pendekatan pseudo science (sains semu) ini antara lain sebagai berikut.
1.      Mitos
Mitos merupakan gabungan dari pengamatan, pengalaman dengan dugaan, imajinasi dan kepercayaan.
2.      Wahyu
Wahyu merupakan komunikasi sang Pencipta dengan makhluk-Nya sebagai utusan yang menghasilkan ilmu pengetahuan yang benar.
3.      Otoritas dan Tradisi
Otoritas dan tradisi yaitu pengetahuan yang telah lama ada dan dipergunakan oleh pemimpin atau secara tradisi untuk menyatakan kebenaran.
4.      Prasangka
Prasangka yaitu berupa dugaan yang kemungkinannya bisa benar dan bisa salah.
5.      Intuisi
Intuisi merupakan kegiatan berpikir yang nonanalitik (tanpa nalar), tidak berdasarkan pola pikir tertentu dan biasanya pendapat itu diperoleh dengan cepat tanpa melalui proses berpikir terlebih dahulu.
6.      Penemuan Kebetulan
Penemuan kebetulan yaitu pengetahuan yang awalnya ditemukan secara kebetulan dan beberapa di antaranya adalah sangat berguna.
7.      Cara Coba-Ralat (Trial and Error)
Trial and error adalah pengetahuan yang diperoleh melalui cara coba-salah-coba-salah, tanpa dilandasi dengan teori yang relevan.

Pada zaman Yunani (600-200 SM) pola pikir manusia menjadi lebih maju dariada pola pikir mitos. Pada masa ini terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman, dan akal sehat atau logika. Aliran ini disebut “rasionalisme”, yaitu pertanyaan akan dijawab dengan logika atau hal-hal yang masuk akal.
Selanjutnya juga dikenal metode deduksi, yaitu penarikan suatu kesimpulan berdasarkan pada sesuatu yang bersifat umum. Bebarapa waktu setelahnya juga dikenal metode induksi, yang intinya adalah pengambilan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperinmentasi yang diperoleh.
D.    Mitos Dalam Pandangan Islam
Islam adalah agama yang mengagungkan kebenaran. Tolok ukur kebenaran dalam Islam yaitu bersumber dari wahyu Allah Ta’ala, baik dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Islam juga mengagungkan ilmu dan mengharamkan berkata tanpa dasar ilmu yang benar.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an:
﴿ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ﴾
“Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”[12](Q.S: Al-Baqoroh: 147).
Diantara cara berfikir yang menyimpang dari kebenaran adalah percaya kepada khurafat dan mitos. Yang dimaksud dengan mitos adalah cerita-cerita bohong tentang suatu hal seperti asal usul tempat, alam, manusia dan sebagainya yang mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. Sedangkan definisi khurafat adalah ajaran atau keyakinan yang tidak mempunyai landasan kebenaran, disebut pula takhayul.
Dalam kajian Islam, tidak semua mitos-mitos itu benar, bahkan percaya kepada sebagian mitos-mitos yang ada adalah merupakan kesyirikan, sebagai contoh: adalah kepercayaan bahwa orang yang melindas mati seekor kucing, jika tidak dikuburkan dan dikafani oleh orang yang melindas, maka orang tersebut atau kenderaannya akan mengalami kecelakaan. Hal ini jelas bertentangan dengan Agama, sebab segala kebaikan dan kemudratan itu datangnya hanya dari Allah semata.
قُلْ لَا يُصِيْبَنَا اِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا
Artinya: Katakanlah, Sesuatu tidak akan menimpa kami, kecuali Allah telah mentaqdirkannya kepada kami.
E.     Contoh-contoh mitos dalam kehidupan masyarakat.
Ada beberapa hal yang dianggap mitos ditengah-tengah masyarakat, dan sudah dipercayai sejak dahulunya, kepercayaan itu diwariskan secara turun temurun hingga pada saat sekarang ini yang semua ilmu pengetahuan dibuktikan dengan cara ilmiah dan menemukan titik rasional.
1.      Mitos di Tanah Minang: (Jan bapayuang di dalam rumah, beko di tembak patuih). Berpayung di dalam rumah, dikhawatirkan akan disambar petir. juga, Jan duduak diateh banta, jikok duduak diateh banta beko ikua tu dek bisua (Bisul).
2.      Mitos beringin kembar di Alun-alun Kidul. Kalau bisa melintasi dua pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup, semua permintaan kita akan dikabulkan. Mitos tersebut dilatarbelakangi oleh dua cerita yang ada di tengah masyarakat. Berikut ini adalah dua versi cerita tersebut.
3.      Mitos tentang foto bertiga, maka yang di tengah akan meninggal duluan.
4.      Dilarang menjahit di malam hari, karena dapat menyebabkan kemiskan.
5.      Kisah anak durhaka Sampuraga di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kisah ini dibuktikan dengan adanya peninggalan air yang menggelegah yang dipercayai sebagai Sampuraga yang mencair akibat kedurhakaannya kepada ibunya, yaitu tidak mau mengakui ibunya sebagai ibu kandungnya sendiri, kemudian ibunya mengutuknya hingga turun hujan yang lebat, dan dia menyatu dengan air hujan itu lalu tubuhnya pun ikut mencair dan menggelegah karena menyatu dengan panasnya api pemasak makanan dipesta pernikahannya. Terakhir dibuktikan bahwa air yang menggelegah itu adalah merupakan limbah dari gunung merapi yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat itu.[13]






BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Mitos merupakan cerita suat bangsa tentang dewa-dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentng asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.
Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam.
Dalam kajian Islam, tidak semua mitos-mitos itu benar, bahkan percaya kepada sebagian mitos-mitos yang ada adalah merupakan kesyirikan, sebagai contoh: adalah kepercayaan bahwa orang yang melindas mati seekor kucing, jika tidak dikuburkan dan dikafani oleh orang yang melindas, maka orang tersebut atau kenderaannya.
B.     Saran
Demi khasanah keilmuan, dan kesempurnaan tulisan ini, kritikan, saran dan masukan dari saudara/i sangat dibutuhkan, buat kebaikan pemahaman kita di hari yang akan datang.



0 komentar:

Poskan Komentar