Kamis, 30 Oktober 2014

Ilmu Pengetahuan dan Hakikat


BAB I
PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang

     Ilmu merupakan suatu pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan informasi yang didapatkan dan segala sesuatu yang diketahui manusia. Itulah bedanya dengan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan pengetahuan yang berupa informasi yang didalami sehingga menguasai pengetahuan tersebut yang menjadi suatu ilmu.
      Di kalangan masyarakat saat ini, bahkan siswa, mahasiswa pun yang tiap harinya ke sekolah, ke kampus, hilir mudik masuk gedung pendidikan untuk menuntut ilmu, untuk menambah pengetahuan, yang mestinya mereka tahu akan perbedaan dua kata tersebut, yang mestinya mereka tahu dengan jelas apa itu ilmu dan pengetahuan, terkadang mereka masih bingung dengan perbedaan ilmu dan pengetahuan.
Tapi, suatu pendapat mengatakan, sebenarnya manusia tahu, siswa, mahasiswa, masyarakat tahu, tapi tidak semua manusia dapat mendefinisikan suatu perkara, tidak semua manusia bisa mengeluarkan isi dalam pikirannya. Karena terkadang manusia, sebagian manusia hanya bisa mengeluarkan lewat menulis, bukan karena ia bisu, tapi kemampuannya untuk berbicara tidak sama dengan manusia yang pada umumnya suka berbicara.
Dalam perkembangan dunia filsafat terutama dalam dunia filsafat ilmu hakikat-hakikat kebenaran sangat penting dan berperan sekali terhadap mencari kebenaran tersebut di dalam suatu masalah pokok. Setiap kebenaran harus diserap oleh kebenaran itu sendiri serta kepastian dari pengetahuan tersebut, dari suatu hakikat kebenaran merupakan suatu obyek yang terus dikaji oleh manusia terutama para ahli filsuf, karena hakikat kebenaran ini manusia akan mengalami pertentangan batin yakni konflik psikologis.



B.     Rumusan dan Batasan Masalah
1.      Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penulis dapat mendeskripsikan rumusan masalahnya sebagai berikut:
a.       Apa itu ilmu pengetahuan?
b.      Dari mana sumber ilmu pengetahuan?
c.       Apa fungsi ilmu pengetahuan?
d.      Apa definisi hakikat/kebenaran?, dan
e.       Apa saja teori-teori kebenaran?

2.      Batasan Masalah
Dari Latar Belakang dan Rumusan Masalah di atas, maka dapat ditetapkan bahwa batasan masalahnya adalah sebagai berikut
a.       Pengertian ilmu pengetahuan
b.      Sumber ilmu pengetahuan
c.       Fungsi ilmu pengetahuan
d.      Pengertian hakikat/kebenaran
e.       Teori-teori kebenaran.
C.     Tujuan penulisan
Dari beberapa batasan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penulisan makalah ini di antaranya adalah:
1.      Untuk memperkaya khasanah keilmuan bagi mahasiswa dan calon guru pada khususnya.
2.      Untuk mengetahui mendapat pengetahuan secara pasti apa itu ilmu pengetahuan, kebenaran, dan bagaimana teori-teori kebenarannya.
3.      Sebagai pelengkap tugas mata kuliah filsafat umum yang dibimbing oleh bapak Salman Al-Farsyi, S.Pd.I.,MA.

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Ilmu Pengetahuan
1.      Pengertian
Ilmu pengetahuan merupakan rangkaian kata yang sangat berbeda namun memiliki kaitan yang sangat kuat. Ilmu dan pengetahuan memang terkadang sulit dibedakan oleh sebagian orang karena memiliki makna yang berkaitan dan sangat berhubungan erat. Membicarakan masalah ilmu pengetahuan dan definisinya memang sebenarnya tidak semudah yang diperkirakan. Adanya berbagai definisi tentang ilmu pengetahuan ternyata belum dapat menolong untuk memahami hakikat ilmu pengetahuan itu.
Ilmu Pengetahuan merupakan gabungan dua kata “Ilmu” dan “Pengetahuan”. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan.[1] Lebih dalam lagi pengertiannya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang mengartikan ilmu sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.[2] dalam bahasa Inggris kata “ilmu” dapat ditemukan dengan kata “Knowledge” dan “Science”. yang mana konowledge diartikan dengan: “Information, understanding and skills gained through Education or exprience”[3] sementara Science dapat diartikan sebagai: “Knowledge abaut the structure and behaviour of the natural and pyisical word”.[4]
Menurut Quroish Sihab, kata ilmu dalam berbagai bentuk terdapat 854 kali dalam al-Qur’an. kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan. jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu..[5]
kemudian yang kedua adalah pengetahuan, Menurut Ensiklopedi Wikipedia, pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.[6]
2.      Sumber dan Fungsi Ilmu Pengetahuan
Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an.[7] Yaitu kalam Allah yang diturunkan olehnya melalui perantaraan Mala’ikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad Bin Abdullah dengan lafaz yang berbahasa Arab dan makna-maknanya yang benar, untuk menjadi hujjah bagi Rasul atas pengakuannya sebagai Rasulullah.[8] atau, kebenaran yang langsung disampaikan Tuhan kepada salah seorang hamba-nya, yang dipilih-nya, yang disebut rasul atau nabi.[9]
Adapun fungsi ilmu pengetahuan secara umum adalah (1) untuk berubudiyah kepada Allah, (2) untuk dapat membedakan yang hak dengan yang batil, yang salah dan yang benar, dan (3) sebagai modal untuk mencapai kebenaran dan kebahasaan hidup di dunia dan di akhirat.[10]
B.     Hakikat/Kebenaran
1.      Pengertian
Hakikat dengan kebenaran merupakan kata yang bersinonim, bedanya adalah bahwa kebenaran merupakan bahasa asli Indonesia, sementara hakikat merupakan bahasa yang dipinjam dari bahasa Arab, kemudian dijadikan sebagai kosakata resmi dalam bahasa Indonesia. hakikat diartikan sebagai: “yang sebenarnya; sesungguhnya; kebenaran; kepunyaan sah[11] sementara kebenaran itu sendiri adalah keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.[12]
Aristoteles mendefinisikan kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.[13] Dalam kamus umum Bahasa Indonesia[14]  ditemukan arti kebenaran, yaitu: 1. Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya); 2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya); 3. kejujuran, ketulusan hati; 4. Selalu izin, perkenanan; 5. Jalan kebetulan. Selaras dengan Poedjawiyatna (1987:16) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. 
Dalam definisi lain, Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk suatu kebenaran.[15]
2.      Teori-teori Kebenaran
a.       Teori Kebenaran Koherensi
Teori kebenaran koherensi ini biasa disebut juga dengan teori konsitensi. Pengertian dari teori kebenaran koherensi ini adalah teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya. Sederhananya dari teori ini adalah pernyataan dianggap benar apabila bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh teori koherensi ini adalah pelajaran matematika. Menurutnya, matematika ialah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem matematika disusun atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar yakni aksioma. Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu torema. Di atas torema maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan merupakan suatu sistem konsitensi. Tokoh kebenaran koherensi ini adalah Plato (427-347) dan Aristoteles (384-322.SM).[16]

b.      Teori Kebenaran Korespodensi
Teori kebenaran ini memiliki tokoh yang bernama Aristoteles, menurutnya sesuatu yang ada sebagai tidak ada, atau tidak ada sebagai ada dan maksudnya adalah salah. Sebaliknya mengatakan hal yang ada sebagian ada dan yang tidak ada adalah benar. Muncul kebenaran sebagai persesuaian antara apa yang dilakukan atau dipikirkan dengan kenyataan.  Teori kebenaran korespodensi ini  sangat penting sekali antara lain adalah:
1)      Teori ini sangat didukung oleh empirismeSangat menghargai pengamatan dan pengujian empiris, teori ini lebih menekankan cara kerja pengetahuan aposterion.
2)      Teori ini menegaskan dualitas antara S dan O. Pengenal dan yang dikenal.
3)      Teori ini menekankan bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan. Bukti ini bukannya hasil akal budi, atau hasil imajinasi akal budi, tetapi apa yang disodorkan obyek melalui panca indera.[17] Menurut Jujun S. Suriasumantri, teori ini memiliki pengertian suatu pernyataan jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berhubungan dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori korespodensi ini dipergunakan dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoretis berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori ini.[18]








BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Menurut Quroish Sihab, kata ilmu dalam berbagai bentuk terdapat 854 kali dalam al-Qur’an. kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan. jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an. Yaitu kalam Allah yang diturunkan olehnya melalui perantaraan Mala’ikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad Bin Abdullah dengan lafaz yang berbahasa Arab dan makna-maknanya yang benar, untuk menjadi hujjah bagi Rasul atas pengakuannya sebagai Rasulullah. atau, kebenaran yang langsung disampaikan Tuhan kepada salah seorang hamba-nya, yang dipilih-nya, yang disebut rasul atau nabi.
Adapun fungsi ilmu pengetahuan secara umum adalah (1) untuk berubudiyah kepada Allah, (2) untuk dapat membedakan yang hak dengan yang batil, yang salah dan yang benar, dan (3) sebagai modal untuk mencapai kebenaran dan kebahasaan hidup di dunia dan di akhirat.
Aristoteles mendefinisikan kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.
Teori-teori Kebenaran
1.      Teori Kebenaran Koherensi
2.      Teori Kebenaran Korespodensi
B.     Saran
Demi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi perbaikan makalah ini di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Drajat. Zakiyah, t.th. Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsfat, Jakarta: Bulan BintanG.
Hamid. Farida, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya: Penerbit Apollo.
Kebung. Konrad, 2001. Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta:Pustaka Raya.
Khallaf. Abdul Wahhab, 1994. Ilmu Usul Fiqh (Alih Bahasa : Moh. Zuhri dan Ahmad Qarib). Semarang : Dina Utama.
Poerwadarminta. W.J.S., 2002.  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Ramayulis dan Samsul Nizar, 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
Sihab. Quraish, 1999. Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.
Suriasumantri. Jujun S., 1993. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:Karya Uni Press.
University. Oxfort, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary, (Oxfort University Prss
Anung, Mengenal Arti Sebuah Kata Kebenaran, http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=409 diakses tanggal 28  Oktober 2014  jam 17:12
wikipedia.org/wiki/Pengetahuan. diakses tanggal 28  Oktober 2014  jam 17:12


0 komentar:

Poskan Komentar