Senin, 12 Mei 2014

METODE PEMBELAJARAN SKI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Penulisan
Aktivitas pendidikan dan pembelajaran adalah suatu aktivitas yang di khalifah-rasyidinlakukan dengan pola yang bersistem dan bertujuan untuk memanusiakan manusia, serta mengajarinya untuk merencanakan dan mengatur masa depannya. Bercermin kepada sejarah, merupakan suatu kemestian yang harus dilakukan oleh manusia, guna mengetahui kegagalan dan keberhasilan umat-umat terdahulu, sesudah itu dia sendirilah yang menentukan masa depannya, sesuai dengan cerminan sejarah itu.
Ilmu sejarah merupakan bagian dari berbagai cabang ilmu yang mesti dipelajari oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi umat manusia. Ilmu sejarah senantiasa menarik minat orang banyak. Orang-orang biasa dan orang-orang yang tidak pintar juga ingin mengetahuinya, karena sebab inilah, maka pelajaran/pengetahuan sejarah mesti diajarkan dengan berbagai metode yang tepat dan berkesan, agar initi sejarah itu berkesan di dalam jiwa orang yang mempelajarinya, terutama dibidang Sejarah Kebudayaan Islam, yang merupakan kebudayaan yang paling terbaik dimasa pertengahan jika dibandingkan dengan kebudayaan bangsa-bangsa atau umat lainnya, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan Romawi kuno. Ini lah yang menjadi sebagian dari latar belakang penulisan ini.
B. Batasan Masalah
Seperti yang sudah penulis sampaikan di atas, tulisan ini hanya akan membahas tentang berbagai metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran SKI di Sekolah, yang ruang lingkupnya hanya terhenti pada beberapa bagian, yaitu:
1. Pengertian
2. Jenis-jemnis metode
3. Implikasi metode dalam Pembelajaran
Pembatasan ini juga dilakukan agar penulis tidak merasa kesulitan untuk mengumpulkan berbagai referensi pendukung, sebab dalam pembelajaran SKI itu memiliki ruang lingkup yang sangat banyak dan kompleks, mulai dari Pendekatan, Strategi, hingga kepada Evaluasi.
C. Tujuan penulisan
Tujuan utama penulisan ini adalah sebagai Khasanah Keilmuan, untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang berbagai hal yang mencakup tentang metode Pembelajaran SKI tersebut, juga untuk menjadi motivasi bagi para pendidik agar dapat mengajarkan pengetahuannya dengan baik kepada para peserta didik.
Tulisan ini juga diperuntukkan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Pembelajaran SKI, yang dibimbing oleh Bapak Salman Al-Farisyi, MA.
Akhirnya, hanya terima kasih yang banyak lah yang dapat penulis sampaikan kepada semua pihak yang mendukung selesainya penulisan ini, mulai dari kawan-kawan yang telah mendudukung dengan berbagai pemikiran dan berbagai referensi, juga terima kasih yang tak terhingga secara khusus penulis sampaikan kepada Bapak Pembimbing yang dengan setianya membimbing Mata Kuliah ini sampai selesai pada pembahasan ini dan pembahasan-pembahasan berikutnya. Wassalam
Simpang Empat 25 Maret 2014
Penulis
BAB II
PEMBAHASAN
METODE PEMBELAJARAN SKI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
METODE PEMBELAJARAN SKI
A. Pengertian Metode Pembelajaran SKI
Metode diartikan sebagai: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatuu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatuu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[1] Metode “Method” 1 way of doing; 2 quality of being well planned and organized.[2] Para ahli mendefenisikan metode sebagai berikut:
1. Hasan langgulung dalam Ramayulis “metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan”
2. Abd. Al-Rahman Ghunaikahdalam Ramayulis “metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran”[3]
3. Ahmad Tafsir (1996: 9) “metode mengajar adalah cara yang paling tepat dan tepat dalam mengajarkan mata pelajaran”.[4]
4. Abudin Nata (2005: 143) ”metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan”.[5]
5. Mattulada dalam Mujammil Qomar “cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”.[6]
Kemudian kata metode ini dikaitkan dengan pembelajaran, yaitu interaksi yang sistematis dan terstruktus antara pendidik dengan peserta didik. Dengan demikian, Metode pembelajaran secara Harfiyah dapat diartikan sebagai cara-cara menyam-paikan materi pelajaran dengan cepat dan tepat, dalam artian lain efektif dan efisien.
B. Jenis-jenis Metode Pembelajaran SKI
Sebagaimana diketahui bahwa guru perlu menberikan pengajaran secara menarik agar siswa/peserta didik lebih bergairah untuk menjalankan proses belajarnya. Untuk itu guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan sesuai kebutuhan, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan kaku, sarah dan membosankan siswa/peserta didik.[7]
Metode pembelajaran agama Islam secara umum yang pernah diungkapkan oleh Ahmad Tafsir adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan dan resitasi.[8] Jika dikaitkan dengan pendapat Ramayulis[9], beliau menawarkan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengajaran bidang studi Agama, dapat di jelaskan sebagai berikut:
1. Metode ceramah, yaitu: penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik.
2. Metode tanya jawab, yaitu: cara mengajar di mana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan.
3. Metode diskusi, yaitu: suat penyajian bahan pembelajaran di mana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/membicarakan dan menganalisis secar ilmiah.
4. Metode pemberian tugas, yautu: cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid mempertanggungjawakannya.
5. Metode demonstrasi, yaitu: suat cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu, atau poelaksanaan sesuatu sedangkan murisd memperhatikannya.
6. Metode eksperimen, yaitu: suat cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan sesuatu percobaan, dan setiap proses dari hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
7. Metode kerja kelompok, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru membagi murid-muridnya ke dalam kelompok belajar tertentu dan setiap kelompok diberi tugas-tugas tertentu.
8. Metode kisah, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita.
9. Metode amsal, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan membuat/melalui contoh atau perumpamaan.
10. Metode targhib dan tarhib, yaitu: Suat cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan.
Melihat beberapa keterangan yang telah diungkapkan diatas, jelaslah metode pendidikan Agama Islam itu sangat luas dan sudah mencakup segala hal, namun jika ingin dipilih-pilih terhadap metode yang lebih tepat untuk dipakai dalam pembelajaran SKI, dapat disimpulkan sebagai beriku : bahwa metode pembelajaran SKI dapat dilakukan dengan:
1. Ceramah
Sebagaimana diungkapkan di atas apa yang disebut dengan metode ceramah, penulis sendiri berpendapat bahwa metode ceramah ini dapat dipakai dalam segala jenis pembelajaran dan dalam bidang studi apapun. imelalui metode ceramah ini guru menceritakan/menyampaikan kejadian-kejadian masa lampau dan menjelaskan hikmah apa yang bisa diambil dari sejarah tersebut.[10]
2. Tanya jawab
Metode ini juga dapat dilakukan oleh guru dalam kelas, dengan memulai pertanyaan yang menantang terhadap minat peserta didik. Seperti dengan memulai pertanyaan “siapakah tokoh yang termasuk dalam pembaharuan peradaban dalam islam yang terus menjadi panutan??”.
3. Kerja Kelompok.
Metode yang satu ini pun bisa dilakukan untuk pembelajaran SKI, sebab dengan pemberian tugas kepada peserta didik yang diselesaikan melalui kerja kelompok dapat mengaktifkan siswa secara otomatis untuk mencari pengetahuannya sendiri bersama-sama dengan orang-orang se-kelompoknya.
4. Timeline (Garis Waktu)
Metode ini tergolong tepat untuk pembelajaran sejarah karena di dalamnya termuat kronologi terjadinya peristiwa. Dengan metode ini, peserta didik bisa melihat urutan kejadian dan akhirnya juga bisa menyimpulkan hukum-hukum seperti sebab akibat dan bahkan bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan bantuan penguasaan Timeline beserta rentetan peristiwanya.
Timeline dipakai untuk melihat perjalanan dan perkembangan satu kebudayaan oleh karena itu dia bisa dibuat panjang atau hanya sekedar periode tertentu. Timeline untuk sejarah kebudayaan Islam bisa dibuat mualai dari zaman Jahiliyah menjelang Islam. hadir sampai pada saat ini; timeline juga hanya bisa dibuat menggambarkan perjalanan peristiwa dalam satu kurun atau periode tertentu. Ini adalah metode survey sejarah yang sangat baik karena peserta didik akan melihat benang merah atau hubungan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.[11]
Langkah-langkah:
a. Sampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam pembelajaran hari itu.
b. Tunjukkan pentingnya mempelajari sejarah melalui timeline.
c. Buat timeline dengan cara menarik garis lurus horizontal dan menuliskan waktu tertentu dan beberapa kejadian penting yang terjadi di dalamnya. Waktu berikutnya juga ditulis seperti cara titik waktu pertama dan begitu terus sampai pada waktu tertentu yang sesuai dengan materi pembelajaran. Berikut ini adalah dua contoh timeline yang dibuat dengan cara yang sedikit berbeda pada masa nabi sampai menjelang hijrah.
Timeline yang pertama ditulis dengan format satu tahun satu peristiwa penting.
clip_image002
Timeline yang kedua memungkinkan satu tahun memuat banyak peristiwa penting secara simultan
d. Jelaskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada tahun-tahun tertentu dan menjelaskan hubungannya dari tahun ke tahun.
e. Adakan tanya jawab mengenai peristiwa-peristiwa dan hubungannya satu dengan yang lain.
f. Buat kesimpulan.
g. Minta peserta didik untuk membuat timeline yang berhubungan dengan mereka masing-masing mulai dari lahir sampai saat ini.[12]
Jika dikaitkan dengan pendapat di atas, Ibn Khaldun juga sudah menawarkan metode pembelajaran Sejarah yaitu metode sistematis, yaitu menceritakan kejadian itu sesuai dengan rentetan masanya.
Ibn Khaldun “aku mencatat permulaan generasi-generasi dan Kerajaan-kerajaan, bangsa-bangsa awal yang berada pada satu masa, sebab-sebab tindakan dan perubahan dalam masa-masa lalu dan agama-agama, dan apa yang menjadi prasyarat peradaban berupa Kerajaan, agama, kota, cara berpakaian, kebanggaan, kehinaan, jumlah yang banyak dan jumlah yang sedikit, ilmu dan keahlian, kondisi yang berubah-ubah secara umum, perkotaan pedesaan, peristiwa yang sudah terjadi dan yang sedang dinanti kejadiannya”[13]
5. Metode Concept Map (Peta Konsep)
Peta konsep adalah cara yang praktis untuk mendeskripsikan gagasan yang ada dalam benak. Nilai praktisnya terletak pada kelenturan dan kemudahan pembuatannya. Guru bisa memanfaatkan peta konsep untuk dijadikan sebagai metode penyampaian materi sejarah. Penyampaian materi dengan peta konsep akan memudahkan siswa untuk mengikuti dan memahami alur sejarah dan memahami secara menyeluruh.[14] Peserta didik sendiri nantinya yang akan membuat kaitan antara satu konsep dengan lainnya.
Peta konsep sangat tepat dipakai untuk pembelajaran sejarah karena banyak konsep yang harus dikuasai oleh siswa untuk mengembangkan proses berpikir. Dengan peta konsep, peserta didik tidak akan mengingat dan menghafal materi sejarah secara verbatim, kata per-kata. Mereka punya kesempatan untuk membangun kata-kata mereka sendiri untuk menjelaskan hubungan satu konsep dengan lainnya. Di samping itu, Peta konsep bisa mengatasi hambatan verbal atau bahasa untuk menyampaikan gagasannya dan dalam saat yang sama bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.[15] yang pada akhirnya akan mendorong kemampuan verbalnya, penggunaan kata-kata untuk menyampaikan gagasannya.
Terkadang istilah Peta Konsep (Concept Map) disejajarkan dengan Peta Pikiran (Mind Map). Keduanya memang mempunyai kesamaan dalam hal pembuatannya; keduanya menggunakan cara kerja pembuatan peta. Sedikit perbedaan yang bisa digaris bawahi adalah bahwa Peta Pikiran lebih cenderung dipakai untuk menyampaikan gagasan-gagasan ilmiah yang menjadi kesepakatan umum, sementara itu, Peta Pikiran lebih bersifat personal, yaitu untuk menggambarkan ide-ide atau segala yang ada dalam pikiran seseorang. Peta pikiran merupakan metode yang sangan bagus untuk mencurahkan gagasan.
IMPLIKASI METODE DALAM PEMBELAJARAN
A. Fungsi Metode Secara Umum
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu.[16]
Dengan demikian, jelaslah bahwa metode amat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan. Namun, hal itu menurut perspektif Al-Qur’an harus bertolak dari pandangan yang tepat terhadap manusia sebagai makhluk yang dapat dididik melalui pendekatan jasmani, jiwa, dan akal pikiran.
B. Implikasi Metode
Secara harfiyah, implikasi dapat diartikan sebagai “keterlibatan atau keadaan terlibat”.[17] Jadi Implikasi Metode terhadap pembelajaran adalah: keterlibatan suat metode terhadap pembelajaran tersebut, terkhusus dalam pembelajaran SKI.
Seperti yang diungkapkan di atas, jelas bahwa metode itu besar sumbangannya terhadap tercapainya tujuan pembelajarn. Anggap saj jika seorang guru tidak mampu menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran, maka, sulit sekali dibayangkan jika guru tersebut dan peserta didiknya mencapai suat kompetensi yang diharapkan dari efek suat pembelajarn yang dilakukan tersebut.
Sesuai penjelasan di atas, Wina Sanjaya pernah mnyinggungkan hal ini, beliau mengatakan
““telah hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah pelajaran yang ia pelajar pada malam harinya. Sebagian besar siswa sama sekali tidak merasa tertarik dengan materi yang disampaikannya, karena mereka merasa apa yang disampaikan sang guru sama persis dengan apa yang ada dalam buku yang telah mereka pelajar di rumah. Oleh karena itulah mereka merasa gelisah selama mendengarkan penjelasan guru. Diantara mereka ada yang asyik membaca buku, mengoprol, dan ada juga yang mengantuk. Memperhatikan gejala yang tidak mengenakkan itu, guru segera bereaksi. Sambil memukul-mukul mistar panjang kepapan tulis ia berkata “anak-anak tolong perhatikan...! materi yang bapak sampaikan ini adalah materi yang sangat penting untuk kalian kuasai, nanti so’al-so’al ujian tidak akan jauh dari apa yang bapak sampaikan. Oleh karena itu, tolong perhatikan apa yang bapak sampaikan...!”.
Anak-anak diam sebentar. Yang sedang mengoprol segera menghentikan obrolannya, yang sedang membaca melipat buku bacaannya, demikian juga yang sedang mengantuk melepas kantuknya. Sang guru segera melanjutkan “mengajarnya”, bertutur menyampaikan informasi. Suara sedikit melemah, karena kehabisan energi, sehingga siswa yang duduk di bangku bagian belakang tidak dapat menangkap apa yang diuraikan guru. Ini semua semakin membuat bosan siswa, mereka kembali dengan aktivitasnya semula: mengoprol, membaca, dan mengantuk. “Membosankan...!” gerutu seorang siwa yang duduk dibelakang”” [18]
Menurut penuturan di atas, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa betapa besar peran rangkaian multi-metode yang dikuasai guru terhadap kondusifnya sebuah aktivitas pembelajaran yang terus berorientasi kepada kompetensi yang mesti dicapai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
guru perlu memberikan pengajaran secara menarik agar siswa/peserta didik lebih bergairah untuk menjalankan proses belajarnya. Untuk itu guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan sesuai kebutuhan, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan kaku, sarah dan membosankan siswa/peserta didik.
Metode diartikan sebagai: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatuu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatuu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode “Method” 1 way of doing; 2 quality of being well planned and organized
terhadap metode yang lebih tepat untuk dipakai dalam pembelajaran SKI, dapat disimpulkan sebagai beriku : bahwa metode pembelajaran SKI dapat dilakukan dengan:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Kerja Kelompok.
4. Timeline (Garis Waktu)
5. Metode Concept Map (Peta Konsep)
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu
B. Saran
Kritik dan saran sangan penulis harapkan demi Khasanah Keilmuan dan perbaikan kedepannya
DAFTAR PUSTAKA
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hanafi, 2012. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
Iskandar Agung, 2010. Meningkatkan Kreativitas Mengajar Bagi Guru. Jaktim : Bestari.
Khaldun. Ibn, 2012. Mukaddimah Ibn Khaldun, (alih bahasa Masturi Irham, Lc Dkk), Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsal.
Qomar. Mijammil, (Tanpa Tahun). Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional Hingga Metode Kriti. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nata. Abuddin, 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Poerwadarminta. W.J.S., 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: balai Pustaka.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. 2012. Jakarta: Kalam Mulia.
Sanjaya. Wina, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media.
Tafsir. Ahmad. 1999. Metodologi Pngajaran Agama Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
Abdul Latif M, Metode Pembelajaran Sejarah atau SKI, www. Kompasiana.com..




2 komentar: