Senin, 12 Mei 2014

KETERAMPILAN MENGGUNAKAN ALAT DAN METODE PEMBELAJARAN

KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan pendidikan terencana untuk penggunaan-media-google-earthmenyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui bimbingan, pengajaran dan atau latihan. Bidang studi PAI meliputi Aqidah-Akhlaq, Al-Qur’an-Hadits, Fiqh, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Mata pelajaran PAI seharusnya tidaklah hanya sekedar menghafal dalil-dalil naqli atau beberapa syarat rukun ibadah syar’iyah, namun merupakan upaya, proses dan usaha untuk mendidik siswa agar menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Islam, sehingga peserta didik dapat mengembangkan daya imajinasi dan kreasi berfikir rasional untuk memahami dan menghayati ajaran agama Islam itu sendiri.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial.
Berkaitan dengan hal itu, alat peraga/media dalam pembelajaran PAI mempunyai peran yang sangat penting. Peran alat peraga pada pembelajaran PAI adalah untuk mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan peserta didik dan antara peserta didik dengan sesamanya, memotivasi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, memberikan pengalaman yang nyata dan juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik. Adapun tujuan digunakannya alat peraga/media pembelajaran diantaranya untuk memperjelas informasi atau pesan pembelajaran, memberi tekanan pada bagian-bagian penting, memberi variasidalam pembelajaran dan memperjelas struktur pembelajaran.
Metode pembelajaran tidak akan kalah penting dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sesungguhnya. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan seperti apa alat/media dalam pembelajaran, dan seperti apa metode yang digunakan dalam pembelajaran.
PEMBAHASAN
KETERAMPILAN MENGGUNAKAN ALAT DAN KETERAMPILAN METODE PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN MENGGUNAKAN ALAT
A. Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa alat adalah: benda yang dipakai untuk mengrjakan sesuatu.[1] Sedangkan media adalah alat (sarana) komunikasi[2] yang beragam sebagai penghubung dan perantara dalam pembelajaran”.
Zakiyah Darajat menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media pendidikan.[3] Sedangkan media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari Medium,[4]secara harfiah berarti perantara aau pengantar.
Media pembelajaran adalah suatu yang dapat diinderai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat di dalam maupun di luar kelas, yang digunakan sebagai alat bantu penghubung (medium komunikasi) dalam proses interaksi belajar-mengajar untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa. Media pembelajaran mengandung aspek-aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang berkaitan erat dengan metode mengajar.
B. Jenis-jenis Alat Pembelajaran
Menurut Rudy Brets, ada 7 (tujuh) klasifikasi media, yaitu :
1. Media audio visual gerak, seperti : Film bersuara, film pada televisi, Televisi dan animasi.
2. Media audio visual diam, seperti : Slide.
3. Audio semi gerak, seperti : tulisan bergerak bersuara.
4. Media visual bergerak, seperti : Film bisu.
5. Media visual diam, seperti : slide bisu, halaman cetak, foto.
6. Media audio, seperti : radio, telephon, pita audio.
7. Media cetak, seperti : buku, modul. [5]
C. Jenis Keterampilan Menggunakan Alat
Sebelum semua media yang diungkapkan di atas digunakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendiidik, yaitu:
1. Mengkaji bentuk media pembelajaran yang ada.
2. Mengkaji segenap hal yang terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, dan tujuan pembelajaran yang akan disampaikan[6].
3. Merancang media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penggunaan.
4. Membahas rancangan penggunaan bentuk media pembelajaran dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mendapat tanggapan, bimbingan, bantuan, dan arahan.
5. Menyiapkan fasilitas pendukung penggunaan media pembelajaran.
6. Apabila dipoerlukabn terhadap penerapan media pembelajaran tertentu yang kurang dikuasai, mencari bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah.
7. Merancang alat pengembangan evaluasi terhadap hasil yang diperoleh dari penerapan media pembelajaran yang digunakan.
8. Menyusun rencana kerja pemanfaatan media pembelajaran.[7]
KETERAMPILAN METODE PEMBELAJARAN
A. Pengertian
Secara etimologi, metode dalam bahasa arab di kenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategi yang di persiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pekerjaan atau pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.[8] Sedangkan secara terminologi, para ahli mendefinisikan metode sebagai berikut:
1. Hasan Langgulung, mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus di lalui untuk mencapai tujuan pendidikan.
2. Abd. Al-Rahman Ghunaimah, mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
3. Ahmad Tafsir, mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang penting tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat di simpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara, jalan dan tehnik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang di rumuskan dalam silabi mata pelajaran.[9]
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda (multypurpose), misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki sesuatu. Kegunaannya dapat tergantung pada si pemakai atau pada corak, bentuk, dan kemampuan metode  sebagai alat. sedangkan monopragmatis, bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan.
Metode pembelajaran yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, fungsinya adalah menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar-mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran. Oleh karena itu, metode harus sesuai dan selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi lingkungan (setting) dimana pengajaran berlangsung. Penggunaan atau pemilihan suatu metode mengajar di sebabkan oleh adanya beberapa faktor yang harus dipertimbangkan antara lain: tujuan, karakteristik siswa, situasi, kondisi, kemampuan pribadi guru, sarana dan prasarana.[10]
B. Jenis-jenis Metode
Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode-  metode tersebut adalah:[11]
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui      penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar    metode ini terdapat di dalam Al Qur’an :
فَلَمَّآ أَنجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنفُسِكُم مَّتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23).[12]
2. Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca.
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan. Dalam hadits disebutkan :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَقَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا.[13]
Artinya:
Hadis Qutaibah ibn Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463)
3. Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun   berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi[14] menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog).
4. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
5. Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang berbunyi
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya:
Rasulullah saw  adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. (al-Bukhari, I: 226)
6. Metode eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu   percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap        murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. Prinsip dasar metode ini ada dalam hadits :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ e دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ e فَرَدَّ وَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . فَرَجَعَ يُصَلِّى كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ e فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » ثَلاَثاً . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . فَقَالَ « إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً ، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا »[15]
Artinya:
Dari abi hurairah bahwa nabi e masuk ke dalam mesjid. Maka masuklah seorang laki-laki kemudian sholat dan kemudian mengucap salam kepada nabi, maka nabi menjkawab salamnya. Lalu berkata: kembalilah dan sholatlah karena engkau belum sholat. Kemudian ia ulangi sholatnta dan mengucap salam kepada nabi. maka nabi menjawab salamnya. Lalu berkata: kembalilah dan sholatlah karena engkau belum sholat. Hingga 3x. Laki-laki itu berkata: demi yang mengutusmu dengan kebenaran tiada yang lebih bagus darimu, maka ajarilah aku. Rasul bersabda: apabila engkau berdiri untuk sholat, maka takbirlah, kemudian bacalah ayat yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, lalu rukuk sampai sempurna, kemudian i’tidal sampai benar-benar berdiri, kemudian sujud sehingga tenang diwaktu sujud, kemudian bangkit, hingga benar waktu duduk, dan lakukanlah seperti itu di semua sholat mu.
7. Metode Amsal/perumpamaan
Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan.
8. Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.
C. Penggunaan Metode
Sebelum semua metode yang diungkapkan di atas digunakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, yaitu:
1. Mengkaji bentuk metode pembelajaran yang ada.
2. Mengkaji segenap hal yang terkait dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, dan tujuan pembelajaran yang akan disampaikan[16].
3. Merancang metode sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penggunaan.
4. Membahas rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mendapat tanggapan, bimbingan, bantuan, dan arahan.
5. Menyiapkan fasilitas pendukung penggunaan metode pembelajaran.
6. Apabila dipoerlukabn terhadap penerapan metode pembelajaran tertentu yang kurang dikuasai, mencari bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah.
7. Merancang alat pengembangan evaluasi terhadap hasil yang diperoleh dari penerapan metode pembelajaran yang digunakan.
8. Menyusun rtencana kerja pemanfaatan metode pembelajaran.[17]
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media pembelajaran adalah suatu yang dapat diinderai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat di dalam maupun di luar kelas, yang digunakan sebagai alat bantu penghubung (medium komunikasi) dalam proses interaksi belajar-mengajar untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa. Media pembelajaran mengandung aspek-aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang berkaitan erat dengan metode mengajar.
Menurut Rudy Brets, ada 7 (tujuh) klasifikasi media, yaitu :
1. Media audio visual gerak, seperti : Film bersuara, film pada televisi, Televisi dan animasi.
2. Media audio visual diam, seperti : Slide.
3. Audio semi gerak, seperti : tulisan bergerak bersuara.
4. Media visual bergerak, seperti : Film bisu.
5. Media visual diam, seperti : slide bisu, halaman cetak, foto.
6. Media audio, seperti : radio, telephon, pita audio.
7. Media cetak, seperti : buku, modul.
Metode pembelajaran yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, fungsinya adalah menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar-mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran. Oleh karena itu, metode harus sesuai dan selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi lingkungan (setting) dimana pengajaran berlangsung. Penggunaan atau pemilihan suatu metode mengajar di sebabkan oleh adanya beberapa faktor yang harus dipertimbangkan antara lain: tujuan, karakteristik siswa, situasi, kondisi, kemampuan pribadi guru, sarana dan prasarana
B. Saran
Kritik dan saran pembaca sangat penulis harapkan untuk kebaikan tulisan ini dimasa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Agung . Iskandar, 2010. Meningkatkan Kreativitas Mengajar Bagi Guru. Jaktim : Bestari.
Arief . Armai, 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press.
Darajat. Zakiyah, 1984. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Depertemen agama, Qur’an dan Terjamahnya, (Surakarta: CV Al-Hanan)
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hamalik. Oemar, 1989. Media Pembelajaran. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Jamroh. Abi, 2005. hasyiah ala mukhtashor ibn abi jamroh lil bukhori. Haromain.
Nawawi. Imam, Arba’in Nawawi. Jakarta Timur : Al i,tizhom cahaya umat.
Ramayulis, 2012. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia.
Usman. Basrudin M., 2004. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta : Ciputat Press.



0 komentar:

Posting Komentar