Senin, 12 Mei 2014

KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS dan MEMBUAT OBSERVASI

KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Manajemen kelas merupakan berbagai jenis kegiatan yang dengan sains-topik-dayasengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Manajemen kelas sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.

Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
Keterangan di atas sungguh jelas dan sangat urgen untuk dijadikan sebagai landasan utama pengangkatan masalah ini. Sebab, jika seorang guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik, maka guru tersebutlah yang gagal dalam menyelenggarakan pembelajaran.
Tujuan utama penulisan ini adalah sebagai Khasanah Keilmuan, untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang berbagai hal yang mencakup tentang kemampuan mengelola kelas. juga untuk menjadi masukan bagi para calon pendidik agar dapat mengajarkan pengetahuannya dan me-manage peserta didiknya dengan baik.
Tulisan ini juga diperuntukkan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Micro Teaching1, yang dibimbing oleh Ibunda Dra. Hj, Khadijah Ismail, MA.
Akhirnya, hanya terima kasih yang banyak lah yang dapat penulis sampaikan kepada semua pihak yang mendukung selesainya penulisan ini, mulai dari kawan-kawan yang telah mendudukung dengan berbagai pemikiran dan berbagai referensi, juga terima kasih yang tak terhingga secara khusus penulis sampaikan kepada Ibunda Pembimbing yang dengan setianya membimbing Mata Kuliah ini sampai selesai pada pembahasan ini dan pembahasan-pembahasan berikutnya. Wallohu A’lam
STAY YAPTIP Simpang Empat, 09 Maret 2014
Penulis
PEMBAHASAN
KEMAMPUAN MENGELOLA KELAS dan OBSERVASI KELAS
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
A. Pengertian
Kata keterampilan dapat diartikan sebagai: kecakapan untuk menyelesaikan tugas,[1] kemudian Istilah mengelola kelas diambil dari istilah “calssroom Management” yaitu kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru dalam menyelengarakan kelas.[2] Dalam KBBI mengelola bersal dari kata kelola yang berarti; 1 mengendalikan; menyelenggaraka; 2 mengrus; menjalankan.[3] Mengelola “Management”; act of running and controling a Business.[4] Sementara kelas diartikan sebagai “ruang tempat belajar di sekolah”.[5] Atau, kelas “class”; group of student toughts together”.[6] Sementara, kelas juga disebut sebgai: sekelompok siswa yang diajar bersama atau suatu lokasi kelompok itu menjalani proses pembelajaran pada tempat dan waktu yang diformat secara formal.[7]
Defenisi dari mengelolaan kelas menurut para ahli
Prof. Udin Syaefudin Saud (2010; 69) “Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya apabila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar”.[8]
Prof. Dr. Sudarwan Danim dalam Inovasi Pendidikan mengistilahkan pengeloaan kelas dengan Manajemen kelas. Katanya “konsep modern memandang manajemen kelas sebagai peroses pengorganisasian segala sumber daya kelas bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan efisien”.[9]
Made Pidarta dengan mengutip pendapat Lois V. Johnson dan Marry A. Bany, mengemukakan bahwa pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan, memelihara dan mempertahankan sistem / organisasi kelas. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya pada tugas-tugas individual.
Menurut Hadari Nawawi ( 1989 : 115 ), pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. Suharsimi memahami pengelolaan kelas yang menyangkut pengelolaan siswa dan pengelolaan fisik ( ruangan, perabot, alat pengajar ).
Sahertian (1982; 33) kemampuan mengelola kelas itu adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memaklumi kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal dengan cara mendisiplinkan dan melakukan kegiatan remedial.[10]
Usman (1996; 56) juga menjelaskan bahwa kemampuan mengelola kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.[11]
Pengelolaan kelas dan pengajaran adalah adalah dua kegiatan sangat erat berhubungan. Namun dapat, dan harus dibedakan satu sama lain, berhubung tujuannya berbeda. Kalau pengajaran (Instruction) mencakup semua kegiatan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran (menentukan entry-behavior siswa, menyusun rencana memberi informasi, bertanya, menilai, dan sebagainya), pengelolaan kelas menunjuk kepada kegiatan-kegiatan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi proses belajar.[12] Dalam proses belajar mengajar di sekolah dapat dibedakan adanya dua kelompok masalah yaitu masalah Pengajaran dan masalah Pengelolaan Kelas.[13]
B. Tujuan Pengelolaan Kelas
Peroses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.[14] Agar pross pembelajaran itu dapat terarah dan mencapai tujuan, seorang guru dituntut untuk mampu mengelola kelas dngan baik, yang ber tujuan, untuk;
1. Mendorong siswa mengembangkan tingkah lakunya sesuai tujuan pembelajjaran
2. Membantu siswa menghentikan tingkah lakunya yang menyimpang dari tujuan pembelajaran
3. Mengendalikan siswa dan sarana pembelajaran dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan untuk menbcapai tujuan pembelajaran
4. Membina hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan sisawa, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi efektif “Ed”.[15]
Penggunaan komponen keterampilan mengelola kelas mempunyai tujuan, baik untuk siswa maupun untuk guru. Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut[16] :
1. Tujuan untuk siswa
Keterampilan mengelola kelas untuk siswa bermaksud:
a. Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
b. Membantu siswa mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.
c. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.
2. Tujuan untuk guru:
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam:
a. Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah pelajaran secara tepat dan baik.
b. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya di dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa
c. Memberikan respon secara efektif terhadap tingkah laku yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebih-lebihan atau terus menerus melawan di kelas.[17]
C. Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas
Salah satu aspek pentingnya dalam pengelolaan kelas adalah adalah pendekatan dan teknik-teknik disiplin yang efektif. Strategi pembiasaan disiplin kelas ditentukan oleh filsafat pendidikan dan asumsi yang berkenaan dengan siswa. Guru-guru perlu memahami sistem disiplin suat sekolah agar dia menerima serta mjempelajari metode dan pelaksanaannya.
Guru-guru memilih dan melaksanakan satu atau seperangkat pendekatan yang berdasarkan gaya pribadi, dan ada pula yang lebih senang menggunakan model terstruktur dalam rangka melaksanakan disiplin kelas.
Ada tiga model disiplin kelas yang dapat dilaksanakan, yakni (1) modifikasi tingkah laku, (2) disiplin asertif, dan (3) pendekatan psikoanalitis.[18]
Pendekatan lain juga dapat dilakukan, dengan peng-klasifikasian sebagai berikut:
1) Pendekatan Otoriter.
2) Pendekatan Permisif.
3) Pendekatan Resep.
4) Pendekatan Pengajaran.
5) Pendekatan Perubahan Perubahan Tingkah Laku.
6) Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial.
7) Pendekatan Proses Kelompok.
8) Pendekatan Pluralistik.[19]
D. Komponen-Komponen Keterampilan Mengelola Kelas
Dr. Jabir Abdull Hamid Jabir, Dr. Sulaiman Syeikh, Dr. Pauzi Zahir, dalam bukunya “kecakapan dalam mengajar”[20] merangkan lima cara untuk memenej kelas. Tiap-tiap cara memiliki defenisi tersendiri, sehingga tuga seorang guru berbda-beda, sesuadi dengan defenisi yang ada. Secara ringkas, lima cara tersbut adalah sebagai berikut;
1. Menguasai
2. Toleransi
3. Meluruskan prilaku
4. Cara sosial dan emosional positif
5. Meng efektifkan suasana kelas[21]
Udin Syaefudin Saud (2010: 69) juga menyebutkan: Komponen-komponen keterampilan mengelola kelas, yaitu:
a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuyan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran, sehingga berjalan secara optimal, efisien, dan efektif.
b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan. Dalam hal ini guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kmondisi belajar yang optimal.[22]
Dilihat dari jenisnya komponen pengelolaan kelas dapat dibagi menjadi dua komponen[23], yaitu :
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
a. Menunjukkan Sikap Tanggap
Menggambarkan tingkah laku guru yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dapat ditunjukkan dengan berbagai cara seperti berikut.
1) Memandang Secara Saksama
2) Memberikan Pernyataan   
3) Gerak Mendekati
4) Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Kekacuan Siswa
b. Membagi Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
1) Visual
2) Verbal
c. Memusatkan Perhatian
Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :
a. Menyiagakan Siswa
b. Menuntut Tanggung Jawab Siswa
d. Memberikan Petunjuk yang Jelas
Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan dari pada siswa. Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
e. Menegur
Apabila terjadi tingkah laku siswa yang menggangu kelas atau kelompok dalaam kelas, hendaklah guru menegurnya secara verbal.
f. Memberi Penguatan
Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pembelajaran atau menggangu temanya. Yaitu dengan cara.
1) Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggagu
2) Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjdi teladan.[24]
E. Beberapa Masalah Dalam Kelas
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat.[25]
Masalah pengajaran terkait dengan cara guru dalam menyampaikan materi agar dapat diterima secara maksimal oleh keseluruhan peserta didik di kelasnya. Penampilan menarik dan cara mengajar yang interaktif dapat menumbuhkan niat dan semangat peserta didik terhadap suatu materi yang disampaikan oleh gurunya. Seorang guru yang mengalami masalah pengajaran akan terlihat pada hasil evaluasi siswa secara menyeluruh. Jika sebagian besar peserta didik dalam suatu kelas mendapatkan nilai di bawah standar, maka seorang guru harus dapat mencari tahu letak kelemahannya dalam menyampaikan materi.
Sedangkan masalah pengelolaan kelas tekait dengan hal-hal yang menjadi kendala bagi siswa dalam kegiatan pembelajarn. Masalah pengelolaan kelas dapat di kelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat masalah yang sedang dihadapi.[26]
Esti Ismawati (2010: 165) “Pada prinsipnya masalah pengelolaan kelas terbagi dalam tiga kategori”, yaitu:
1. Masalah yang ada dalam wewenang guru bidang studi.
2. Masalah yang ada dalam wewenang sekolah sebagai lembaga pendidikan.
3. Masalah yang ada di luar wewenang guru bidang studi dan sekolah[27]
Pembelajaran, bukan lah suat sistem yang bisa berjalan sesuai dengan keinginan guru, namun, pada saat-saat tertentu pasti akan muncul berbagai permasalahan, sebab itulah guru dituntut agar mampu mengelola kelas dan peserta didik itu dengan baik, agar pembelajaran itu menghasiulkan sesuai dengan tujuan dengan keinginan.
OBSERVASI
A. Pengertian Observasi
Observasi merupakan suatu penelitian yang dijalankan secara sistematis dan disengaja diadakan dengan menggunakan alat indra (terutama mata) atas kejadian – kejadian yang langsung dapat ditangkap pada waktu kejadian berlangsung. [28]
Observasi adalah pengujian dengan maksud atau tujuan tertentu mengenai sesuatu, khususnya dengan tujuan untuk mengumpulkan fakta, satu skor atau nilai, satu verbalisasi atau pengungkapan dengan kata – kata segala sesuatu yang telah diamati.[29]
Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara partisipan dan non – partisipan. Metode partisipan mengharuskan peneliti terlibat di dalam kegiatan anak – anak dan remaja. Sedangkan metode non – partisipan hanya mengamati dari luar, tidak perlu terlibat. (Psikologi Pendidikan oleh Prof. Dr. Sofyan S. Willis, 2012 : 36)
Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan terhadap subjek ataupun kejadian yang dilakukan dengan cara sistematis. Observasi dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti pengamatan atau peninjauan secara cermat. Sedangkan para ahli memberikan pemahaman observasi sebagai berikut:
1. Sutrisno Hadi dalam Sugiono (2012: 203), observasi merupakan suat proses yang kompleks, suat proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[30]
2. Burhan Bungin (2011: 143) observasi atau pengamatanb adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya selain panca indra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit.[31]
3. Syaodih N (2006: 220) Mengatakan bahwa, observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.
4. M. Subana dan Sudrajat (2009: 143) cara pengumpulan data berdasarkan pengamatan yang menggunakan mata atau telinga sacara langsung tanpa menggunakan alat bantu yang standar.[32]
B. Tujuan Observasi
Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas – aktivitas yang berlangsung, orang – orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian yang dilihat dan perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, fakta, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan.
Observasi perlu dilakukan karena beberapa alasan, yaitu :
o Memungkinkan untuk mengukur banyaknya perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak – anak.
o Prosedur testing formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak – anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
o Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara pengumpulan data yang lain. Pada anak – anak, observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab, orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat – buat bila merasa sedang diobsevasi.
Tujuan observasi bagi seorang psikolog pada dasarnya adalah sebagai berikut :
a. Untuk keperluan asessment awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya : ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain.
b. Sebagai dasar atau titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapi klien.
c. Bagi anak – anak, untuk mengetahui perkembangan anak – anak pada tahap tertentu.
d. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain – lain.
e. Sebagai informasi status anak atau remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling.[33]
C. Manfaat Observasi
Manfaat dari observasi dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Hasil observasi yang dibuat dapat dikomfirmasikan dengan hasil penelitian
2. Deskripsi memberikan gambaran dunia nyata
3. Memungkinkan pembaca memiliki penafsiran sendiri terhadap temuan dan bagaimana akan diinterpretasikan
4. Dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung dan dapat menguji kuwalitas, memperkirakan mengapa sesuuatu terjadi dalam seting nyatanya
5. Dapat mencatat gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya
6. Mencatat situasi yang tidak dapat direplikasikan dalam eksperimen
7. Kronologi peristiwa dapat dicatat dengan berurutan
8. Peralatan dan teknologi dapat merekam secara permanen
9. Observasi dapat dikombinaskan dengn metode lain.[34]
D. Jenis Observasi
Ada beberapa jenis observasi yang lazim dilakukan oleh konselor atau peneliti, yaitu :
1. Dilihat dari keterlibatan subyek terhadap obyek yang sedang diobservasi (observee), observasi bisa dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
a. Observasi partisipan
b. Observasi non – partisipan
c. Observasi kuasi – partisipan
2. Dilihat dari segi situasi lingkungan dimana subjek diobservasi, Gall dkk (2003 : 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu :
a. Observasi naturalistik
b. Observasi eksperimental
3. Khususnya bentuk observasi sistematis, Blocher (1987) mengelompokan ke dalam tiga bentuk dasar observasi, yaitu :
a. Observasi naturalistik
b. Metode survai
c. Eksperimentasi
PENUTUP
A. Kesimpulan
Beberapa hal penting yang dapat kami jadikan sebagai kesimpulan dalam makalah ini adalah berikut ini:
Pengelolaan kelas merupakan usaha sadar, untuk mengatur kegiatan proses belajar mengejar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar.
Penguasaan terhadap prinsip mengelola kelas merupakan keterampilanyang harus dikuasai oleh bagian seorang guru yang profesional, selain harusmenguasai pengetahuan atau ilmu yang akan diajarkannya secara prima, jugaharus menguasai cara menyampaikan materi dan penguasaan ruang belajar sehingga akan tercapai proses belajar mengajar yang efektif.
Empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan guru sebagaimanager: merencanakan, mengorganisasikan, memimpin,dan mengawasi
Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapatmengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, dandapat memilih strategi penanggulangannya dengan tepat pula. Secara umum masalah dalam pengelolaan kelas dibagi dalam tiga kelompok, yaitu masalahindividu, masalah kelompok dan masalah organisasi.
B. Saran
Apa yang kita bayangkan dalam pengelolaan kelas dapat menjadi tindakannyata ketika berdiri di depan kelas untuk memulai proses belajar mengajar.Mengelola kelas dengan baik menjadikan suasana belajar mengajar terasamenjadi kondusif dan menyenangkan, baik bagi murid maupun guru.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Terbitan
Bungin. Burhan, 2011. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Komunitas, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Danim. Sudarwan, 2010. Inovasi Pendidikan.Bandung : CV. Pustaka Setia.
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hamalik. Oemar, 2009. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Ismawati. Esti, 2010. Perencanaan Pengajaran bahasa. Surakarta : Yuma Pustaka.
Khalifah. Mahmud dan Usamah Qutub, 2009. kaifa tasyabaha mu’alliman mutamayyizan. (terjemah: Muhtadi Kadi dan Kasrin Karyadi, Menjadi Guru yang di Rindu). Surakarta : Ziyad Visi Media.
Oxfort University, 2008. Oxfort Learners Pocket Dictionary. Oxfort University Prss.
Sahertian. Piet A, 1982. Dimensi-dimensi Pendidikan di Sekolah. Malang: IKIP Malang.
Sanjaya. Wina, 2011. Perencanaan dan Desain Sistem Pemblajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Saud. Udin Syaefudin, 2010. Pengembangan Profesi Guru. Bandung : Alfabeta.
Subana dan Sudrajat, 2009. Dasar-dasar Penelitian Ilmia. Bandung : Pustaka Setia.
Sugiono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung : Al-Fabeta.
Walgito. Bimo. Bimbingan dan Konseling, Studi dan Karier, 2010. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Web Publikasi
Nurul Hidayah (2012), http://nurul-h--fpsi10.web.unair.ac.id/artikel_detail-45721-umum-observasi.html.
Almasawi, Dkk, Makalah Masalah-Masalah Pengelolaan Kelas, http://tugas-makalah.blogspot.com/2012/06/masalah-masalah-dalam-manajemen-kelas.html,
Nu Lih Desi Ana, Makalah Masalah Pengelolaan Kelas Dan Cara Menghadapi MasalahPengelolaan Kelas, http://poenyaecix.wordpress.com/2012/01/20/masalah-pengelolaan-kelas-dan-cara-menghadapi-masalah-pengelolaan-kelas/,
Titin Az-Zahra, Makalah Keterampilan Mengelola Kelas, http://titinaz-zahra04.blogspot.com/2012/11/makalah-keterampilan-mengelola-kelas.html,
Mas Tarmudi 2010. http:// http://mastarmudi.blogspot.com/2010/07/pengertian-observasi.html.
http://mujahidinalbanjari.wordpress.com/2012/12/04/makalah-pengelolaan-kelas/.
Rialovelyjim.blogspot.com/2013/06/makalah-observasi.html



2 komentar: