Kamis, 03 April 2014

REMEDIAL TEACHING



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai seorang guru, mempunyai kewajiban mulai dari perencanaan pembelajaran, peroses, hingga akhirnya nanti sampai kepada meng-evaluasi hasil belajar peserta didiknya. Oleh karna itu, seorang guru harus mempersiapkan segala sesuatunya yang bersangkutan dengan penilaian peserta didiknya guna mengukur tingkat kemampuan yang telah dicapai peserta didik tersebut.
Jika terjadi kesenjangan pada siswa terhadap kriteria keberhasilan yang ditetapkan oleh guru bidang studi, maka disinilah peran guru yang bersangkutan untuk membuat program perbaikan pembelajaran dengan menggunakan strategi yang berbeda dan bervariasi, oleh sebab itulah kami dengan sengaja menyusun makalah ini yang bermuatan tentang pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching), juga untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah Desain Pembelajaran.
B.     Batasan masalah
Untuk menghindari kesenjangan dan pembahasan yang tidak connect dengan pembahasan, maka pemakalah akan membatasinya, bertitik pada beberapa pembahasan
1.      Pengertian Remedial teaching
2.      Prinsip pengajaran remedial
3.      Identifikasi cakupan pengajaran remedial
4.       tipe pengajaran remedial
5.      Prosedur pengajaran perbaikan

Ucapan terimakasih yang tidak terhingga masih akan terucap buat dosen pembimbing, yang selalu setia memberikan bimbingan dengan baik dalam mata kuliah ini, juga ucapan terima kasih yang tidak terhinnga juga kami ucapkan kepada saudara-saudara maha siswa atas partisipasinnya dalam mengikuti mata kuliah ini.
                                                            STAI YAPTIP  06 November 2013
                                                                                Penyusun
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian

Dalam penetapan kriteria keberhasilan, dalam kurikulum sebelumnya (KTSP) kriteria di tetapkan oleh sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi pelajaran[1], maka disaat siswa belum mampu mencapai kriteria keberhasilan dalam suat bidang studi tersebut, disinah peran guru untuk membuat program pembelajaran perbaikan dengan berbagai strategi yang berbeda, agar semua siswa tersebut dapat mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan itu.  Sebab anak didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.[2]
 Pengajaran perbaikan biasa dikenal dengan istilah Remedial Teaching dalam system kurikulum sekolah. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah corrective instruction . dalam Kamus Ilmiah POPULER Lengkap, Disebutkan; Remedial dapat berarti sebagai: pengobatan; penawaran; penyembuhan yang berhubungan dengan perbaikan.[3] Pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan . Pengajaran perbaikan ini perlu dikuasai setidak – tidaknya dikenal oleh guru bidang studi atau petugas bimbimbingan konseling disekolah.Berasal dari kata ; Remidy[ing];menyembuhkan,mengulang ; Teaching ; pengajaran, proses belajar.

Remedial teaching merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan [remidy] atau membetulkan. Atau dengan singkat : pengajaran yang membuat menjadi baik . layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan . Remedi juga adalah kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran untuk kemudian dapat diperbaiki ulang dengan strategi yang berbeda.

John M. Echols Hassan Shadily dalam Kamus Inggris Indonesia (1993 : 476) menjelaskan bahwa kata “remedial“ adalah kata sifat adj.) yang artinya berhubungan dengan perbaikan. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English dijelaskan bahwa salah satu arti kata remedy (n.) adalah ‘putting right udraj thatis wrong’ (Hornby,1987:714). Dalam modul materi pokok pengajaran remedial dan pengayaan Bahasa Indonesia yang disusun oleh     Bistok A. Siahaan,dkk. Dijelaskan bahwa kata remedial berarti bersifat mengobati, menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. Berdasarkan makna kata remedial sebagai udr bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan pengajaran sehingga membuat menjadi baik.

Nasution menyampaikan; guru perlu menilai hasil belajar murid sebagai petunjik tentang efektivitasnya mengajar. Bila hasilnya tidak memuaskan, ia berusaha meneliti sebab-sebabnya terutama kesalahn-kesalahan sebagai titik tolak kearah perbaikan, lalu mencoba mencari cara lain untuk membantu anak menguasai pelajaran yang disajikannya. Bedanya ialah bahwa pendekantannya tidak sistematis dan ilmiah.[4]
Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan secara udrajatal, penanganan kasus kesulitan belajar siswa dapat dilakukan dengan :
1)      Pendekatan pengajaran remedial (remedial-teaching)
2)      Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling)
3)      Psikoterapi (psychotherapy)


B.     Prinsip Pengajaran Remedial
Pada dasarnya proses, pelaksaan pengajaran remedial serupa dengan proses belajar-mengajar biasa (udraja). Namun perbedaannya terletak  pada dua prinsip /karakteritis berikut.
Tujuan pembelajaran lebih diarahkan pada peningkatan (improvement) prestasi belajar siswa, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sehingga setidak-tidaknya dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang dapat diterima (minimum acceptable performance) atau meningkatkan kemampuan penyesuaian kembali (readjustment), baik terhadap dirinya maupun lingkunganya.
Strategi pendekatan (termasuk di dalamnya metode, teknik, materi, udraja, bentuk/jenis tugas, dan lain-lainnya) lebih ditekankan pada pnyensuaian keragaman kondisi obyektif yang dapat dipandang sebagai modifikasi dari proses belajar biasa (konvensional-klasikal). Keragaman obyektif yang dimaksud dalam hal ini, seprerti kapasitas umum/khusus, motivasi, minat, aspirasi, pengetahuan, keterampilan dasar/prasaratan, sikap kebiasaan, kematangan/kesiapan, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam modifikasi dalam hal ini antara lain pengulangan, percepatan, pengayatan, dan penggantian/udrajata.
C.     Indentifikasi Cakupan Pengajaran Remedial
Seperti diketahui bahwa pengajaran remedial merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar yang menghendaki ketuntasan mencapai tujuan/kompetensi atau mencapai tujuan secara optimal.
Di sekolah-sekolah Indonesia, ketuntasan belajar atau mencapai tujuan yang optimal itu secara eksplisit dicantumkan dalam kurikulum. Menurut kurikulum 1975, kurikulum 1984, bahkan kurikulum 1994 setiap siswa diharapkan menguasai 80% target yang telah ditentukan sebelum menguasai materi pembelajaran yang baru. Menurut ketentuan kurikulum berbasis udrajata 2004/KTSP 2006, tingkat ketuntasan ditentukan sebesar 75%. Akan tetapi, setiap daerah/sekolah diberikan kebebasan menentukan patokan ketuntasan sesuai dengan situasi dan kondisi atau keadaan sekolah yang bersangkuatan.[5]
Jika pengajaran remedial (remedial teaching) telah menjadi milik guru, guru tentunya dapat melakukan secara efektif atau tanpa keraguan dapat menentukan alternative mana yang harus digunakan.
D.    Tipe Pengajaran Remedial (Remedial Teaching)
1.      Tipe Bloom
Menurut Bloom, setiap siswa dan guru haruslah mahir dalam setiap bagian materi kegiatan belajar, namun dengan catatan bahwa pemahiran bagian-bagian itu tidak boleh sama dengan pemahiran secara kesuruhan, Menurutnya pemahiran itu ditentukan oleh penguasaan secara udrajatal dalam menangani masalah/materi itu sampai pada taraf 80-90%.
2.      Tipe keller
Jika seseorang belum mencapai taraf tertentu yang belum ditargatkan seratus persen (100%), maka keseluruhan belajar ini harus diulang seluruhnya. Dalam hal pemilihan dua tipe remedial yang telah disajikan di atas (tipe Bloom dan tipe Keller) tergantung pada pokok bahasan atau tujuan yang ingin dicapai.[6]
3.      Langkah Mengidentifikasi Siswa
Program remedial akan berhasil dengan baik jika didahului oleh upaya guru mengidenfikasi kesulitan belajar siswa dengan baik.
a)      Menandai murid dalam satu kelas atau satu kelompok yang diduga mengalami kesulitan belajar, baik secara umum maupun khusus dalam mata pelajaran tertentu.
b)      Cara menentuksn ialah membandingkan siswa dalam kelompoknya (PAN) atau dengan kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan untuk udr mata pelajaran atau untuk bahan tertentu.
c)      Berbagai teknik dapat ditempuh, antara lain :
·         Meneliti nilai ulangan yang terdapat dalam buku laporan rapot), lalu dibandingkan dengan rata-rata kelasnya.
·         Menganalisis hasil ulangan yang telah dibuatnya dengan melihat tipe kesalahan yang telah dibuatnya.
·         Mengobservasi siswa dalam proses belajar di kelas.
·         Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas BP, guru kelas, dsb.
E.                Prosedur Pelaksanaan Pengajaran Perbaikan
Ketika membahas procedure maka yang akan muncul adalah langkah – langkah apa saja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Remedial Teaching dengan Step By Step, maka bisa kami jelaskan sedikit mengenai langkah – langkah apa saja yang akan dilakukan dengan menggunakan dua udraja dari massofa dan ahmad udrajat.[7]
Ahmad udrajat berpendapat bahwa langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial.

1.      Diagnosis Kesulitan Belajar
a)      Tujuan : Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat. Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar diri peserta didik, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan.
Kesulitan belajar berat dijumpai pada peserta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa,
b)      Teknik : Teknik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: tes prasyarat (prasyarat pengetahuan, prasyarat keterampilan), tes diagnostik, wawancara, pengamatan, dsb.
Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan. Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik.Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun penyebab kesulitan belajar peserta didik.
2.      Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:
o   Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.
o   Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
• Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (udr) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.
o   Pemanfaatan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab. Diatas sudah dijelaskan tentang langkah – langkah pelaksanaan Remidial Teaching menurut ahmad udrajat. Maka sangatlah berbeda dengan pendapatnya massofa yang memaparkan pendapatnya mengenai langkah – langkah pelaksanaan dalam Remidial Teaching secara To The Point dan ringkas dengan urut – urutannya, yakni ;
a)      analisis hasil diagnosis kesulitan belajar.
b)      menemukan penyebab kesulitan.
c)      menyusun rencana kegiatan remedial.
d)     melaksanakan kegiatan remedial, dan
e)      menilai kegiatan remedial.
Prof. Dr. Nasution, MA dalam bukunya Tekhnologi pendidikan kembali merumuskan Pelaksanaan Remedi pada proses pembelajaran itu, tergambar dalam Skema[8] dibawah ini:
Skema Pelaksanaan Remedi

Demikianlah prosedur dalam pelaksanaan pembelajaran perbaikan yang diadakan oleh guru bidang studi yang bersangkutan.
Profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan itu, jelas kiranya bahwa profesionalisasi guru dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat[9]. Oleh karena itulah maka jabatan sebagai guru harus terus menerus meningkatkan kemampuan dan bebagai kompetensi yang mesti dimiliki seorang guru, guna untuk memberikan bimbingan kepada anak bangsa dan menjadikan mereka sebagai sosok yang berilmu pengetahuan dan mempunyai moral dan karakter yang tinggi.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Remedial teaching merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan [remidy] atau membetulkan. Atau dengan singkat : pengajaran yang membuat menjadi baik . layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan . Remedi juga adalah kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran untuk kemudian dapat diperbaiki ulang dengan strategi yang berbeda.
Seperti diketahui bahwa pengajaran remedial merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar yang menghendaki ketuntasan mencapai tujuan/kompetensi atau mencapai tujuan secara optimal.
Maka remedial teaching ini perlu dilakukan oleh guru yang bersangkutan untuk terus memperbaiki kualitas pendapatan siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran secara memuaskan, setidak tidaknya dapat menuntaskan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan.
B.     Saran
Demi semangat pendidikan, kami dari penyusun makalah, mengajak kita semua terutama kepada kawan-kawan di semester V B STAI YATIP untuk bersama-sama meningkatkan kualitas diri kita masing-masing, agar kita menjadi sarjana yang benar-benar mampu menularkan pengetahuan yang benar dan budi pekerti yang bagus terhadap peserta didik kita nantinya, agar tercipta anak bangsa yang berkualitas yang ampu bersaing dengan dunia, dan ampu menunjukkannya kepada dunia bahwa Indonesia BISA.


DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Penerbit Gaya Media Pratama.
Farida Hamid, Kamus Ialmiah Popiler Lengkap, Penerbit APOLLO (SURABAYA).

Nasution, Teknologi Pendidikan, PT Bumi Aksara, Cet: keempat, Mei 2008.
Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru, Penerbiat Alfabeta Bandung.
Wina sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompotensi,KENCANA PRENADA MEDIA GROUP, Cet. Ke4.



[1] Wina sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompotensi,KENCANA PRENADA MEDIA GROUP, Cet. Ke4, Hal. 179 (dengan sedikit tambahan)
[2] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Penerbit Gaya Media Pratama, Hal.131
[3] Farida Hamid, Kamus Ialmiah Popiler Lengkap, Penerbit APOLLO (SURABAYA), HAL. 545
[4]Nasution, Teknologi Pendidikan, PT Bumi Aksara, Cet: keempat, Mei 2008, Hal: 10
[8] Nasution, of.cit, hal 10
[9] Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru, Penerbiat Alfabeta Bandung, Hal. 98

0 komentar:

Posting Komentar